Laporan: Dhanis Iswara
Dewan Hak Asasi Manusia PBB saat melakukan sidang. Foto: Arsip Press TV TODAYNEWS.ID – Amerika Serikat (AS) resmi menarik diri dari Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB, sehari setelah misi pencari fakta PBB menyatakan ada “alasan yang masuk akal” untuk meyakini pasukan AS melakukan kejahatan perang dalam dua serangan terhadap situs sipil di Iran.
Sebagaimana dilaporkan kantor berita Press tv, pada Jumat (18/9/2026), Departemen Luar Negeri AS menyatakan Washington mengakhiri keanggotaan dan partisipasinya di Dewan HAM PBB.
AS menuding badan tersebut mempromosikan “retorika anti-Amerika” dan terlalu akomodatif terhadap pemerintah yang dituduh menindas rakyatnya.
Keputusan tersebut diambil saat Dewan HAM PBB menggelar sesi reguler ke-63 di Jenewa, yang berlangsung 7 September hingga 7 Oktober 2026.
Sebelumnya, Misi Pencarian Fakta Internasional Independen tentang Iran merilis laporan terkait tindakan AS selama perang yang berlangsung sejak 28 Februari 2026. Penyelidik menyebut terdapat “alasan yang masuk akal” untuk meyakini pasukan AS melakukan dua serangan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil.
Salah satu serangan terjadi di Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh, Minab, Iran selatan. Serangan rudal Tomahawk tersebut menewaskan lebih dari 160 orang, termasuk sekitar 120 anak-anak.
Misi PBB menyatakan sekolah tersebut merupakan fasilitas sipil yang jelas dan tidak menemukan bukti digunakan untuk kepentingan militer. Penyelidik menilai AS gagal mengambil langkah yang memungkinkan untuk memastikan lokasi tersebut merupakan sasaran militer sebelum melakukan serangan.
Serangan lainnya terjadi di Lamerd, Provinsi Fars. Rudal AS menghantam kompleks olahraga dan area permukiman di sekitarnya, menewaskan 22 warga sipil serta merusak sejumlah bangunan.
Misi PBB menyimpulkan kedua serangan tersebut dilakukan tanpa pandang bulu dan memenuhi unsur kejahatan perang.
Namun, Washington membantah keras temuan tersebut. Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri AS menolak penilaian Dewan HAM PBB serta mempertanyakan kredibilitas laporan tersebut.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk urusan hukum, Kazem Gharibabadi, menilai serangan Amerika Serikat (AS) terhadap kota Minab dan Lamerd merupakan kejahatan perang yang terang-terangan.
Dia menyinggung serangan di Minab yang menewaskan 168 anak serta serangan di Lamerd yang menewaskan warga sipil.
“Sejarah tidak akan lupa; di Minab, sebuah sekolah ternoda oleh darah 168 anak, dan di Lamerd, lapangan olahraga berubah menjadi tempat pembantaian warga sipil,” kata Gharibabadi melalui unggahan berbahasa Persia di akun X pada Jumat.
“Sekarang semua orang mengakui bahwa apa yang terjadi di Minab dan Lamerd adalah kejahatan perang yang terang-terangan, bukan kesalahan operasional,” lanjut Diplomat Iran itu.
Dia menegaskan bahwa AS tidak dapat menghindari tanggung jawab atas serangan tersebut hanya dengan menarik diri dari Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB.
“Amerika Serikat tidak dapat lepas dari tanggung jawabnya dengan menarik diri dari Dewan Hak Asasi Manusia,” tegas Gharibabadi.
Editor: Azis Arriadh