Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Kurniasih Mufidayati. Foto: TODAYNEWS/Dhanis TODAYNEWS.ID – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Kurniasih Mufidayati, mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat konsolidasi riset serta pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) nasional.
Ia menekankan pentingnya Indonesia membangun ekosistem AI yang mandiri dan tidak hanya menjadi konsumen produk luar negeri.
Kurniasih menilai pesatnya perkembangan teknologi agentic AI menjadi peluang besar bagi Indonesia. Terlebih, Indonesia sudah memiliki modal awal berupa talenta hebat, riset, dan produk AI buatan lokal.
“Indonesia sudah memiliki talenta dan berbagai inisiatif AI buatan lokal. Ini merupakan modal yang sangat berharga. BRIN dapat mengonsolidasikan kekuatan tersebut sehingga berkembang menjadi salah satu kekuatan AI besar yang dibangun dari kemampuan bangsa sendiri,” kata Kurniasih dalam keterangan yang diterima, Sabtu (12/9/2026).
Ia mendorong BRIN mengambil peran strategis sebagai ‘orkestrator’ yang menghubungkan riset perguruan tinggi, inovasi startup, pengembangan industri, hingga kebutuhan masyarakat. Tanpa konsolidasi, inovasi yang berkembang di berbagai lembaga dikhawatirkan berjalan sendiri-sendiri.
“Yang kita perlukan adalah orkestrasi. BRIN bisa menjadi penghubung antara riset di perguruan tinggi, inovasi anak bangsa, pengembangan teknologi oleh industri, dan kebutuhan masyarakat. Dengan begitu, berbagai potensi yang sudah ada dapat menjadi kekuatan bersama,” ujarnya.
Kurniasih mengapresiasi pemetaan BRIN terhadap teknologi strategis seperti semikonduktor, AI, biogenomik, hingga komputasi kuantum.
Namun, ia mengingatkan agar riset AI nasional berfokus pada sektor berdampak luas, seperti pendidikan, kesehatan, pertanian, lingkungan, dan industri kreatif.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya relevansi AI dengan karakteristik lokal, termasuk penguatan bahasa Indonesia dan bahasa daerah dalam teknologi.
“AI yang kita kembangkan harus semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Kita memiliki persoalan, data, bahasa, budaya, dan karakteristik sendiri. Ini justru bisa menjadi keunggulan dalam membangun AI yang relevan dengan Indonesia,” kata Kurniasih.
Lebih lanjut, Kurniasih juga mendorong agar hasil riset AI memiliki jalur hilirisasi yang jelas sehingga dapat berkembang menjadi prototipe, kekayaan intelektual, produk teknologi, maupun layanan yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan dunia usaha.
“Kalau talenta, riset, data, infrastruktur, dan industri bisa terkoneksi dengan baik, kita memiliki fondasi yang kuat untuk membangun AI nasional. Ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga investasi untuk daya saing dan masa depan sumber daya manusia Indonesia,” pungkasnya.