x

Pengamat: PSI Harus Sadar Diri Jika Ingin Tandingi PDIP

waktu baca 2 menit
Senin, 27 Jul 2026 21:00 18 Dhanis Iswara

TODAYNEWS.ID – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai perlu bersikap realistis atau “sadar diri” jika berambisi untuk menggerus dominasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam panggung politik nasional pada Pemilu 2029.

Pengamat Politik dari Citra Institute, Efriza, menilai ketergantungan penuh pada pengaruh figur Joko Widodo (Jokowi) dianggap tidak akan cukup untuk menumbangkan basis ideologis PDIP yang sudah mengakar puluhan tahun.

Menurutnya, potensi PSI untuk memanfaatkan daya tarik Jokowi memang ada, tetapi dampaknya terbatas pada efek coattail (ekor jas), bukan pelemahan secara langsung terhadap basis utama partai berlambang banteng tersebut.

“Peluang PSI menggerus pengaruh Banteng Moncong Putih dengan mengandalkan kekuatan Jokowi memang ada, tetapi kekuatan itu lebih berupa pergeseran berupa efek “ekor jas” Jokowi daripada penggerusan langsung basis Banteng,” kata Efriza pada Senin (27/7/2026).

Efriza menjelaskan bahwa PDIP memiliki loyalis ideologis yang sangat kuat serta mesin partai yang teruji hingga ke tingkat desa.

Sementara di sisi lain, PSI dinilai masih sangat bergantung pada figur Jokowi sebagai patron politik utama, terutama demi menembus ambang batas parlemen (parliamentary threshold) pada Pemilu 2029 mendatang.

Menurutnya, meski melakukan safari politik nasional bersama Jokowi, PSI tidak bisa serta-merta melampaui PDIP secara instan.

“Bahkan, tidak bisa diasumsikan akan terjadi secara otomatis PSI menginjak kepala Banteng, hanya dengan Jokowi bersafari nasional melainkan harus dibangun kekuatan PSI yang kuat dan dengan waktu yang tidak instan,” kata Efriza.

Efriza juga meragukan sejauh mana pengaruh personal Jokowi pasca purna tugas sebagai Presiden RI dapat terus mendongkrak elektoral PSI, terutama di kalangan pemilih moderat, pemilih perkotaan, dan pemilih muda.

“Jika PSI mau bersaing dengan PDIP, PSI harus sadar diri, bahwa PDIP memiliki modal yang berbeda, yakni struktur partai yang telah mengakar, jaringan kader yang sudah besar dan solid hingga tingkat desa, serta basis pemilih ideologis yang telah terbentuk selama puluhan tahun,” ujarnya.

Lebih lanjut, kata Efriza, meski Jokowi berpotensi membantu PSI mencuri sebagian suara pemilih PDIP di daerah-daerah tertentu, namun menurutnya untuk menggantikan dominasi partai berlambang kepala banteng secara nasional merupakan hal yang hampir mustahil.

“Namun, untuk benar-benar “menginjak” atau menggantikan dominasi PDIP sebagai kekuatan utama nasional masih merupakan tantangan yang sangat berat dan sepertinya hal mustahil dalam waktu dekat,” katanya.

“Ukuran keberhasilannya bukan sekadar memenangkan satu atau dua dapil, melainkan apakah PSI mampu membangun mesin partai yang mandiri setelah efek elektoral Jokowi berkurang pasca tidak menjabat,” pungkasnya.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

10 hours ago
2 days ago
5 days ago
6 days ago
7 days ago
1 week ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor