x

NOC Indonesia Soroti Sejumlah Cabor Unggulan Absen di SEA Games 2027

Laporan: Afrizal Ilmi

waktu baca 3 menit
Rabu, 4 Nov 2026 15:03 17

TODAYNEWS.ID – Sejumlah cabang olahraga andalan Indonesia tidak masuk dalam daftar pertandingan SEA Games Malaysia 2027. Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) menyoroti keputusan tersebut karena berpotensi membatasi kesempatan atlet nasional untuk bersaing dan mempertahankan prestasi di tingkat Asia Tenggara.

Cabang olahraga yang tidak masuk program pertandingan antara lain panjat tebing, dayung, voli pantai, gulat, catur, jujitsu, kickboxing, bola tangan, dan triathlon. Selain itu, nomor beregu putra dan putri bulutangkis juga tidak dipertandingkan.

Berdasarkan dokumen resmi yang disetujui dalam rapat SEAGF Executive Committee pada 30 Oktober 2026, SEA Games 2027 akan mempertandingkan 473 nomor dari 43 cabang olahraga. Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan SEA Games Thailand 2025 yang menggelar sekitar 50 cabang olahraga dengan 573 nomor pertandingan.

SEA Games ke-34 dijadwalkan berlangsung pada 18-29 September 2027. Malaysia akan menjadi tuan rumah dengan penyelenggaraan pertandingan di empat klaster, yakni Kuala Lumpur, Sarawak, Penang, dan Johor.

NOC Indonesia menaruh perhatian terhadap hilangnya sejumlah cabang dan nomor pertandingan yang selama ini menjadi sumber medali bagi Merah Putih. Panjat tebing, dayung, voli pantai, dan bulutangkis termasuk olahraga yang memiliki rekam jejak prestasi di kawasan Asia Tenggara.

Ketua Umum NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari, mengatakan pihaknya menghormati kewenangan SEAGF dalam menetapkan program pertandingan. Namun, ia menilai penyusunan cabang olahraga idealnya tetap mempertimbangkan keseimbangan dan kesempatan yang setara bagi seluruh negara anggota.

“SEA Games merupakan pesta olahraga bersama negara-negara Asia Tenggara. Karena itu, penyusunan cabang olahraga dan nomor pertandingan idealnya mempertimbangkan kepentingan seluruh negara anggota, bukan hanya aspek penyelenggaraan tuan rumah,” ujar Okto dalam keterangannya, Rabu (3/11/2026).

Menurutnya, SEA Games seharusnya menyediakan ruang kompetisi yang proporsional bagi atlet dari seluruh negara peserta. Karena itu, keputusan mengenai program pertandingan perlu memperhatikan perkembangan prestasi olahraga di kawasan ASEAN.

Okto menambahkan, keberadaan cabang olahraga unggulan tidak hanya berkaitan dengan peluang meraih medali. Keikutsertaan dalam kompetisi regional juga berpengaruh terhadap kesinambungan pembinaan atlet dan pengembangan ekosistem olahraga nasional.

“Ketika sebuah cabang olahraga yang memiliki rekam jejak prestasi internasional tidak dipertandingkan, dampaknya bukan hanya terhadap perolehan medali satu negara. Ada proses pembinaan panjang, investasi sumber daya manusia, serta perjalanan atlet yang membutuhkan panggung kompetisi,” katanya.

Indonesia sebelumnya mencatatkan hasil positif pada SEA Games Thailand 2025. Kontingen Merah Putih menempati peringkat kedua klasemen akhir dengan raihan 91 medali emas, 111 perak, dan 131 perunggu.

Capaian tersebut menjadi salah satu hasil terbaik Indonesia dalam tiga dekade terakhir. Menurut NOC Indonesia, keberhasilan itu menunjukkan pentingnya pembinaan terarah, persiapan matang, dan sinergi antarpemangku kepentingan olahraga.

NOC Indonesia juga menilai komunikasi dengan SEAGF dan seluruh negara anggota perlu terus dilakukan. Salah satu perhatian yang disampaikan adalah pentingnya menjaga agar penyelenggaraan SEA Games tetap berorientasi pada program Olimpiade.

Meski sejumlah cabang unggulan tidak masuk daftar pertandingan, NOC Indonesia menegaskan perubahan tersebut tidak boleh melemahkan persiapan kontingen. Indonesia tetap berupaya menyiapkan atlet agar mampu bersaing dalam nomor-nomor yang dipertandingkan di Malaysia.

“Fokus kita tetap sama, yaitu mempersiapkan atlet Tim Indonesia agar mampu memberikan prestasi terbaik dengan mengumandangkan Indonesia Raya sambil mengibarkan Merah Putih sesering mungkin,” tutur Okto.

Ia berharap perubahan program pertandingan dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi kekuatan dan menyusun strategi persiapan kontingen. Dengan begitu, atlet yang berangkat ke Malaysia tetap memiliki kesiapan maksimal untuk mengejar prestasi.

Editor: Azis Arriadh

LAINNYA