Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman. TODAYNEWS.ID — Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) mendesak agar penanganan dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah dialihkan dari Kejaksaan Agung (Kejagung) ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Desakan itu muncul di tengah kekhawatiran adanya konflik kepentingan apabila penyidikan tetap ditangani Kejagung.
Koordinator MAKI Boyamin Saiman menilai penyerahan perkara dari Polri kepada Kejagung memang dimungkinkan sebagai bentuk koordinasi antarlembaga. Namun, menurutnya, ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) tidak mengatur adanya penyerahan penyidikan kepada kejaksaan.
“Yang diatur adalah koordinasi penyidikan, bukan menyerahkan penyidikan,” kata Boyamin.
Menurut Boyamin, perkara yang menjerat Febrie lebih tepat ditangani oleh KPK guna menghindari potensi konflik kepentingan. Sebab, tersangka merupakan mantan pimpinan di lingkungan Jampidsus, sementara penyidik yang menangani perkara berasal dari institusi yang sama.
“Karena tersangkanya mantan pimpinan di Jampidsus, lalu yang memeriksa bekas anak buahnya. Ini sama saja kasus dihentikan,” tegasnya.
Desakan agar perkara dialihkan ke KPK juga mengemuka di tengah aksi demonstrasi yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) Zona III DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat di depan Gedung Bundar Jampidsus Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Senin (20/7/2026).
Aksi sempat berlangsung ricuh ketika massa berupaya menerobos gerbang utama kompleks Kejaksaan Agung. Aparat kepolisian yang berjaga membentuk barikade dan meminta peserta aksi mundur, namun imbauan tersebut tidak diindahkan sehingga terjadi aksi saling dorong antara demonstran dan petugas.
Sejumlah prajurit TNI juga tampak bersiaga di sekitar lokasi dengan perlengkapan pengamanan, termasuk tameng, untuk mengantisipasi situasi yang semakin memanas.
Setelah beberapa saat, situasi berhasil dikendalikan dan aksi kembali berlangsung kondusif. Massa kemudian melanjutkan orasi dengan menyampaikan sejumlah tuntutan terkait pemberantasan korupsi dan mendesak aparat penegak hukum menuntaskan berbagai perkara yang menjadi perhatian publik.
Dari atas mobil komando, salah seorang orator menyoroti sejumlah kasus korupsi yang dinilai belum ditangani secara transparan. Massa juga mendesak agar aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap setiap pihak yang diduga terlibat korupsi tanpa pandang bulu.
“Ada banyak kasus korupsi di negeri ini namun penguasa tutup mata. Adili Febrie sang koruptor,” ujar salah satu orator.