Laporan: Afrizal Ilmi
Antrean kendaraan bermotor pada salah satu SPBU di Kabupaten Sintang, Kalbar. Foto: Pertamina Patra Niaga TODAYNEWS.ID – Antrean masyarakat untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jawa Timur. Antrean dilaporkan muncul di wilayah Jember, Blitar, hingga Malang.
PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus memastikan ketersediaan stok BBM di wilayah tersebut dalam kondisi aman. Pasokan untuk Jember dan sekitarnya, yang sebagian besar berasal dari Terminal BBM Tanjungwangi, Banyuwangi, disebut masih terjaga.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi mengatakan perusahaan terus memantau kebutuhan masyarakat dan menyesuaikan penyaluran BBM dengan kuota penugasan pemerintah pusat.
“Untuk kondisi stok, dapat kami sampaikan bahwa dalam saat ini untuk wilayah Jember dan sekitarnya yang disuplai utamanya dari terminal kami di Tanjung Wangi dalam posisi terjaga dan tersedia. Kami terus memperkirakan kebutuhan masyarakat dan menyalurkan kebutuhannya tetap dengan mempertimbangkan kepatuhan terhadap kuota penugasan pemerintah pusat,” kata Ahad, Kamis (15/10/2026).
Ahad menjelaskan, salah satu faktor yang memicu antrean adalah perubahan pola konsumsi masyarakat. Sebagian konsumen beralih dari BBM nonsubsidi seperti Pertamax ke BBM bersubsidi, termasuk Pertalite.
“Kita sama-sama pahami bahwa ada peralihan konsumsi dari produk non-subsidi seperti Pertamax ke bersubsidi seperti Pertalite. Tentunya ini menjadi jumlah yang perlu kita sesuaikan ulang pada saat kita merencanakan pengiriman ke masing-masing SPBU,” ujarnya.
Menurut Ahad, perubahan permintaan tersebut membuat Pertamina perlu menyesuaikan perencanaan distribusi ke setiap SPBU. Perusahaan juga memprioritaskan pengiriman ke lokasi yang mengalami peningkatan permintaan lebih tinggi.
Pertamina turut berkoordinasi dengan kepolisian dan dinas perhubungan (Dishub) setempat untuk mengurai antrean kendaraan. Langkah ini terutama dilakukan di SPBU yang berada di ruas jalan strategis dengan kondisi jalan relatif sempit.
“Untuk mengurai antrean, terutama untuk wilayah SPBU yang berada di lokasi jalan yang strategis, ruasnya sempit gitu ya, kami dibantu oleh aparat penegak hukum, Satlantas Polres terdekat, dan juga Dishub untuk memastikan bahwa antrean kendaraan yang menuju SPBU tidak mengganggu kelancaran lalu lintas di sekitarnya,” kata Ahad.
Selain melibatkan petugas lalu lintas, Pertamina menempatkan petugas marshall di SPBU yang terpantau padat. Petugas tersebut bertugas mengatur antrean agar lebih tertib sekaligus membantu mempercepat proses pengisian BBM.
“Kemudian kami juga menyediakan marshall untuk mengatur antrean supaya lebih tertib dan rapi di area SPBU, dan juga bisa memperlancar percepatan pengisian per kendaraannya,” lanjutnya.
Ahad mengatakan Pertamina juga mengevaluasi kebutuhan BBM di lapangan secara berkala. Perusahaan menggunakan sistem pemantauan yang mengintegrasikan informasi ketersediaan stok di SPBU dengan terminal pasokan.
“Kami punya sistem yang memantau secara real-time ketersediaan stok produk BBM di SPBU untuk semua produk, dan itu terintegrasi dengan sistem kami di terminal. Jadi, kami memastikan bahwa SPBU-SPBU yang memiliki peningkatan permintaan lebih tinggi dibanding yang lainnya menjadi prioritas untuk diutamakan pengiriman dari terminal ke SPBU tersebut. Tentunya alokasi ini kita sesuaikan dengan kebutuhan di masyarakat,” paparnya.
Di sisi lain, Pertamina memperketat pengawasan distribusi BBM bersubsidi bersama aparat penegak hukum. Pengawasan dilakukan untuk memastikan BBM bersubsidi digunakan masyarakat bagi kebutuhan transportasi dan kegiatan ekonomi, bukan diperjualbelikan kembali oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Ini yang perlu kita waspadai bersama. Di saat yang seperti ini, pada saat masyarakat melihat adanya antrean, tentunya kita juga ingin masyarakat yang benar-benar butuh untuk bepergian, untuk beraktivitas, bukan kemudian nanti dipenuhi antreannya oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan kemudian untuk diperjualbelikan kembali BBM-nya,” tegas Ahad.
Pertamina pun mengimbau masyarakat agar tidak panik atau membeli BBM secara berlebihan. Ahad menegaskan perusahaan akan terus memantau ketersediaan stok di SPBU, khususnya di Jember dan sekitarnya.
“Masyarakat kami imbau untuk tetap tenang, tidak perlu panik dan kemudian membeli secara berlebihan. Sejatinya masyarakat yang mengantre di SPBU karena mengetahui barangnya memang ada dan tersedia di SPBU tersebut. Masyarakat tetap tenang, kami akan terus memonitor ketersediaan stok di masing-masing SPBU di wilayah Jember dan sekitarnya,” ujarnya.
Editor: Aziz Arriadh