x

Bahlil Ungkap Rencana Prabowo Bangun Storage Minyak di Sumatra

Laporan: Dhanis

waktu baca 2 menit
Rabu, 4 Nov 2026 10:06 26

TODAYNEWS.ID – Presiden Prabowo Subianto membahas sejumlah strategi penguatan ketahanan energi nasional bersama jajaran menteri Kabinet Merah Putih, dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Salah satu yang menjadi perhatian yakni kesiapan penerapan bahan bakar campuran bioetanol 20 persen (E20) hingga pembangunan fasilitas penyimpanan minyak atau storage.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan Prabowo secara khusus menanyakan kesiapan pemerintah menjalankan program E20.

“Bapak Presiden menanyakan kesiapan tentang implementasi daripada E20 dalam rangka mendorong ketahanan energi kita,” kata Bahlil seusai rapat.

Bahlil menjelaskan pemerintah telah menyusun rencana strategis pengembangan bioetanol secara bertahap, mulai dari E20 hingga E50. Pelaksanaannya akan melibatkan sejumlah kementerian, terutama Kementerian ESDM dan Kementerian Pertanian.

Menurutnya, kedua kementerian akan berkolaborasi untuk memastikan ketersediaan bahan baku dari sektor hulu hingga pengembangan energi di sektor hilir.

Selain bioetanol, pemerintah juga memastikan program biodiesel B50 tetap dilanjutkan. Bahlil menilai pengembangan energi alternatif tersebut penting untuk mengantisipasi ketidakpastian geopolitik global.

“Menyangkut dengan B50 tetap kita pertahankan, karena ini adalah geopolitik yang tidak pernah kita tahu ujungnya ke mana,” ujarnya.

Tak hanya mengembangkan bahan bakar nabati, pemerintah juga menyiapkan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah (crude oil storage) di sejumlah wilayah Sumatra.

Bahlil mengatakan fasilitas tersebut disiapkan untuk memperkuat kapasitas cadangan minyak nasional, terutama ketika Indonesia melakukan impor minyak mentah.

Pemerintah menargetkan kapasitas penyimpanan dapat memenuhi kebutuhan lebih dari 20 hari. Bahkan, target jangka panjangnya ditingkatkan hingga mampu menopang kebutuhan selama 60 hari.

“Target kita bisa sampai dengan 60 hari,” ungkapnya.

Bahlil menambahkan studi kelayakan atau feasibility study (FS) pembangunan fasilitas tersebut telah selesai. Pemerintah berencana mulai meninjau sejumlah lokasi pada akhir 2026.

Dalam proses penentuan lokasi, pemerintah turut mempertimbangkan faktor keamanan dan keselamatan. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi potensi bencana akibat pembangunan fasilitas penyimpanan minyak.

“Salah satu di antaranya adalah kita rancang jangan sampai kondisi di mana kita meletakkan storage itu punya peluang atau potensi besar untuk jadi bencana. Itu kan menyangkut keselamatan,” jelas Bahlil.

Melalui langkah tersebut, pemerintah menargetkan ketahanan energi nasional semakin kuat, baik melalui pengembangan bahan bakar nabati maupun peningkatan kapasitas cadangan minyak strategis di dalam negeri.

Editor: Azis Arriadh

LAINNYA