IHSG menguat pada Selasa (9/6/2026). TODAYNEWS.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatat penguatan signifikan pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Kenaikan pasar saham nasional terjadi di tengah sentimen positif dari rencana buyback saham sejumlah emiten dan kebijakan moneter Bank Indonesia.
Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai optimisme investor meningkat setelah muncul kabar sejumlah perusahaan berencana melakukan pembelian kembali saham atau buyback. Sentimen tersebut dinilai menjadi salah satu pendorong utama pergerakan pasar.
“Selain sentimen buyback saham, pasar juga masih merespons positif keputusan Bank Indonesia yang sebelumnya menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,5 persen,” kata Gunawan.
IHSG ditutup menguat 2,71 persen ke level 5.902,376 pada akhir perdagangan. Penguatan tersebut terjadi saat mayoritas bursa saham di kawasan Asia justru bergerak di zona merah.
Menurut Gunawan, faktor domestik lebih dominan memengaruhi arah perdagangan saham di Indonesia dibandingkan perkembangan pasar global. Investor disebut lebih fokus pada kebijakan ekonomi dalam negeri dan prospek pasar nasional.
Kondisi itu terlihat dari respons pasar yang cenderung mengabaikan penurunan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK). Pada Mei 2026, IKK tercatat turun ke level 120.
Padahal, penurunan indeks tersebut menunjukkan masyarakat masih berhati-hati dalam melakukan konsumsi. Situasi itu juga menjadi indikator bahwa pemulihan daya beli belum berlangsung sepenuhnya.
“Turunnya indeks kepercayaan konsumen menunjukkan masyarakat masih berhati-hati dalam melakukan belanja,” ujarnya.
Selain pasar saham, penguatan juga terjadi pada nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda ditutup menguat ke level Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan hari yang sama.
Gunawan menjelaskan bahwa penguatan rupiah didukung oleh pelemahan indeks dolar Amerika Serikat atau USD Index. Pergerakan indeks dolar yang berada di bawah level 100 memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menguat.
“Meski masih relatif kuat di kisaran 99,9, pelemahan USD Index memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat,” katanya.
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di pasar emas global. Harga emas dunia masih berada dalam tekanan dan diperdagangkan di kisaran 4.178 dolar AS per ons troy setelah mengalami penurunan tajam dalam 24 jam terakhir.
Menurut Gunawan, tekanan terhadap harga emas dipengaruhi perkembangan geopolitik internasional. Ia menyoroti serangan Amerika Serikat terhadap Iran yang memicu perubahan sentimen di pasar keuangan global.
“Serangan tersebut menunjukkan bahwa harapan tercapainya perdamaian antara kedua pihak masih jauh dari kenyataan,” ujarnya. Saat ini harga emas berada di kisaran Rp2,41 juta per gram dan masih menghadapi tantangan akibat ketidakpastian geopolitik serta kekhawatiran terhadap potensi kenaikan inflasi global.
“Kekhawatiran terhadap inflasi dan memburuknya ketegangan geopolitik membuat pergerakan emas masih sangat fluktuatif dalam jangka pendek,” ucapnya.