Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei. Foto: Press TV TODAYNEWS.ID – Pemerintah Iran menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) telah merusak fondasi dialog diplomatik dengan melakukan tiga kali pelanggaran berat dalam gencatan senjata yang sudah disepakati bersama, termasuk 14 poin dalam Memorandum of Understanding (MoU) di Islamabad.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan bahwa masyarakat internasional sebenarnya berharap AS menepati janji mereka, namun kenyataannya justru bertolak belakang.
“Seluruh dunia berharap bahwa setidaknya kali ini, Amerika Serikat akan memenuhi komitmennya,” kata Baghaei kepada televisi ORF Austria, seperti dilansir IRNA, pada Selasa (28/7/2026).
“Namun, apa yang dilakukan Amerika Serikat adalah pelanggaran terang-terangan terhadap berbagai ketentuan perjanjian ini, dan untuk ketiga kalinya, diplomasi telah dikhianati,” lanjut Baghaei.
Meski pertukaran pesan antara Teheran dan Washington masih berlangsung melalui perantara Pakistan, Oman, dan Qatar, Baghaei menegaskan bahwa dialog konstruktif sulit terwujud karena landasan kepercayaan telah dihancurkan oleh pihak AS.
“Rakyat Iran tidak pernah menginginkan perang. Kami diserang dan dipaksa untuk membela diri,” katanya.
“Kami telah menunjukkan kepada dunia bahwa kami bertekad dan teguh dalam mempertahankan kedaulatan, integritas wilayah, dan martabat kami,” tambah Baghaei menegaskan.
Lebih lanjut, Baghaei menyatakan bahwa Iran telah memenuhi semua kewajibannya untuk memfasilitasi jalur aman bagi kapal-kapal komersial melalui Selat Hormuz, dan menyebut Amerika bertanggung jawab langsung atas meningkatnya ketegangan di jalur perairan strategis tersebut.
“Pada hari ke-21 atau ke-22 setelah penandatanganan memorandum tersebut, Amerika Serikat, dengan dalih insiden terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz, melancarkan agresi militer besar-besaran terhadap Iran,” ungkapnya.
Juru bicara tersebut mencatat bahwa AS juga memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelayaran Iran dan mengenakan tarif 20 persen pada kapal yang melintasi selat tersebut setelah beberapa minggu perjanjian ditandatangani.
Sebab itu, Iran menuding bahwa tindakan ilegal Gedung Putih tersebut secara otomatis mencederai ketentuan memorandum yang telah disepakati.