Laporan: Afrizal Ilmi
Pengamat militer Selamat Ginting dalam di kanal YouTube Forum Keadilan. (Dok. Youtube Forum Keadilan) TODAYNEWS.ID – Pengamat militer Selamat Ginting menilai dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh yang menyeret mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo merupakan bagian dari skenario kudeta merangkak.
Ia menduga langkah tersebut bertujuan menggoyang pemerintahan Prabowo dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Penilaian tersebut disampaikan Selamat dalam wawancara di kanal YouTube Forum Keadilan yang dikutip pada Rabu (4/11/2026). Ia juga menduga mantan Presiden Joko Widodo atau Jokowi berada di balik skenario tersebut.
“Makanya saya bilang, ini langkah-langkah yang dilakukan oleh Listyo Sigit Prabowo yang berpotensi didalangi oleh Jokowi ini betul-betul adalah kudeta merangkak,” kata Selamat.
Menurut Selamat, skenario yang diduganya itu diarahkan agar Prabowo tidak melanjutkan kepemimpinannya hingga akhir masa jabatan. Ia menyebut terdapat harapan agar Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kemudian menggantikan Prabowo sebagai presiden.
“Yang ingin Presiden Prabowo tumbang dalam dua atau tiga tahun ini. Harapannya tadi, Gibran yang naik,” ujarnya.
Namun, Selamat menyebut perkembangan politik tidak selalu berjalan sesuai keinginan pihak-pihak tertentu. Ia kemudian menyinggung kemungkinan perubahan situasi politik yang justru berdampak pada posisi Gibran.
“Tuhan punya kehendak lain ya Gibrannya dulu yang turun gitu loh. Nah seperti ini,” ungkapnya.
Selamat Kritik Dukungan Politik terhadap Jokowi
Dalam kesempatan tersebut, Selamat juga melontarkan kritik terhadap dukungan politik kepada Jokowi. Ia meminta masyarakat menghentikan dukungan kepada mantan presiden tersebut.
“Jadi kita harus yakinkan kepada bangsa dan negara sudah sudah stop dukung-dukung Jokowi enggak ada tuh. Enggak ada serusak ini,” tegasnya.
Selamat turut membandingkan kepemimpinan Jokowi dengan sejumlah presiden terdahulu. Ia menyinggung Presiden Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun, tetapi menurutnya tidak memaksakan anaknya untuk menjadi presiden.
“Presiden Soeharto yang berkuasa 32 tahun tidak memaksakan anaknya menjadi presiden. Enggak ada Gus Dur. Enggak ada,” imbuh Selamat.
Ia juga mempertanyakan citra kepemimpinan Jokowi yang selama ini dikenal dekat dengan masyarakat. Selamat menutup pernyataannya dengan kritik terhadap citra tersebut.
“Cuma ini aja. Apa Anda masih percaya ini adalah pemimpin yang merakyat? Engggak ada itu. Selesai. Wassalam,” pungkas Selamat.
Editor: Azis Arriadh