x

Wirendra Tjakrawerdaja: Ketika Menulis Menjadi Jalan Pulang

waktu baca 8 menit
Selasa, 25 Agu 2026 23:34 34 Akbar Budi

Oleh: Wirendra Tjakrawerdaja

Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang akrab dengan koperasi, pemberdayaan masyarakat, dan urusan negara. Ia kemudian memilih dunia teknik, penelitian, pertanian, hingga politik. Namun, perjalanan yang akhirnya membawanya menjadi penulis justru bermula bukan dari ruang akademik atau panggung politik, melainkan dari sebuah masa ketika hidupnya sendiri sedang tidak baik-baik saja.

Ada orang yang sejak muda bercita-cita menjadi penulis. Membayangkan namanya tercetak pada sampul buku, duduk dalam acara peluncuran karya, kemudian membicarakan gagasannya di hadapan pembaca.

Wirendra Tjakrawerdaja bukan salah satunya.

Never in my wildest dream that I would write a book.

Kalimat itu barangkali menjadi pintu paling jujur untuk memasuki perjalanan kepenulisannya. Sejak kecil Wirendra memang gemar membaca. Buku bukan barang asing dalam kehidupannya. Namun, membaca dan membayangkan diri menjadi penulis ternyata merupakan dua perkara yang sama sekali berbeda.

Keinginan menulis justru datang ketika kehidupan membawanya ke sebuah lorong yang tidak pernah direncanakan.

Pandemi COVID-19 mengubah banyak kehidupan. Bagi Wirendra, masa itu bukan sekadar periode pembatasan sosial, ketidakpastian ekonomi, atau perubahan kebiasaan. Ia berhadapan dengan depresi dan kecemasan yang membuatnya harus mencari cara untuk berdamai dengan pikirannya sendiri.

Di sanalah tulisan menemukan fungsinya.

Bukan sebagai pekerjaan.

Bukan pula sebagai jalan mencari popularitas.

Menulis pada mulanya menjadi bagian dari proses

pemulihan dirinya.

Ketika berbagai hal sulit diucapkan kepada orang lain, kertas memberi ruang untuk mengatakannya. Ketika pikiran terasa penuh, menulis membantu mengurainya satu per satu. Dari sana, sesuatu yang semula sangat personal perlahan berubah menjadi sesuatu yang dapat dibagikan.

Barangkali memang demikian perjalanan sebagian tulisan yang paling jujur: ia tidak lahir karena seseorang ingin terlihat pandai, tetapi karena ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak bisa lagi dibiarkan diam.

Anak Menteri yang Memilih Jalannya Sendiri

Wirendra lahir di Jakarta, 20 Maret 1977. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dalam keluarga Subiakto Tjakrawerdaya dan Siti Milangoni. Kakaknya bernama Larasati dan adiknya Hapsari.

Nama ayahnya bukan nama asing dalam sejarah perkoperasian Indonesia.

Drs. Subiakto Tjakrawerdaya pernah dipercaya menjadi Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Ia berada dalam Kabinet Pembangunan VI dan kembali dipercaya dalam Kabinet Pembangunan VII.

Bagi Wirendra, karena itu, koperasi, petani, usaha kecil, dan pemberdayaan masyarakat bukan sekadar istilah yang ditemuinya ketika dewasa. Percakapan mengenai persoalan-persoalan tersebut telah menjadi bagian dari lingkungan tempat ia tumbuh.

Namun, seorang anak tidak selalu harus menjadi salinan ayahnya.

Wirendra memilih jalannya sendiri.

Latar pendidikan teknik membawanya memasuki dunia profesional. Perjalanan tersebut kemudian berkembang menuju dunia penelitian, pertanian regeneratif, dan permakultur. Ia tercatat aktif sebagai peneliti di Universitas Trilogi serta menekuni pertanian sebagai praktik nyata, bukan sekadar bahan diskusi.

Pada satu periode kehidupannya, Wirendra juga masuk ke gelanggang politik. Ia pernah terlibat dalam aktivitas Partai Golkar dan maju sebagai calon anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah VIII yang meliputi Banyumas dan Cilacap pada Pemilu 2019.

Perhatian terhadap kehidupan petani menjadi salah satu isu yang dibawanya. Baginya, petani tidak cukup hanya diminta meningkatkan produksi. Mereka membutuhkan pengetahuan, teknologi, organisasi ekonomi, akses pasar, dan koperasi yang benar-benar bekerja untuk kepentingan anggotanya.

Ada jejak pemikiran ayahnya di sana.

Namun, ada pula pencarian Wirendra sendiri.

Ia tidak berhenti pada romantisme tentang desa dan pertanian. Ia melihat persoalan petani dari dunia yang telah berubah: teknologi digital berkembang cepat, struktur ekonomi berubah, generasi muda semakin jauh dari pertanian, sementara persoalan pangan justru semakin strategis.

Di titik itu, latar belakang teknik, penelitian, pertanian, aktivitas sosial, dan pengalaman politik bertemu dalam dirinya.

Lalu kehidupan memberinya satu identitas tambahan yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya:

penulis.

Dari Grup WhatsApp Menuju Sebuah Buku

Wirendra tidak memulai perjalanan kepenulisannya dari ruang redaksi.

Ia juga tidak memulainya dengan mengirim naskah ke penerbit.

Ruang publik pertamanya justru sangat sederhana: grup WhatsApp.

Pada awalnya, ia mengaku bingung hendak meletakkan tulisan-tulisannya di mana. Facebook tidak lagi seramai masa sebelumnya. Twitter—yang kemudian menjadi X—memiliki karakter percakapan yang berbeda. Sementara WhatsApp justru menjadi ruang yang setiap hari dibuka banyak orang.

Wirendra sendiri bergabung dalam puluhan grup.

Maka tulisan-tulisannya mulai beredar dari satu layar telepon genggam ke layar lainnya. Dari satu grup ke grup lainnya. Dibaca teman, kenalan, kolega, bahkan orang-orang yang mungkin tidak pernah ditemuinya secara langsung.

Dari kebiasaan itulah muncul sebuah sebutan yang ia sampaikan dengan nada bercanda:

“Penulis WhatsApp.”

Sebutan sederhana itu justru menggambarkan perubahan besar dalam kebiasaan membaca masyarakat.

Orang hari ini hidup di tengah banjir informasi. Dalam perjalanan menuju kantor, ketika menunggu rapat, selepas bekerja, atau beberapa menit sebelum tidur, perhatian mereka diperebutkan oleh pesan WhatsApp, TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, berita, dan berbagai notifikasi lainnya.

Wirendra menyadari kenyataan tersebut.

Karena itulah sebagian besar tulisannya sengaja dibuat dalam kisaran 700 hingga 1.000 kata. Bukan karena ia tidak mempunyai sesuatu yang lebih panjang untuk dikatakan, melainkan karena ia memahami satu persoalan penting dalam literasi hari ini:

tulisan bukan hanya harus penting untuk dibaca, tetapi juga harus membuat orang bersedia membacanya.

Ia tidak ingin menambah beban pembaca dengan tulisan yang terasa seperti kuliah panjang. Banyak orang, menurut pengamatannya, sudah pulang membawa kelelahan masing-masing. Ada persoalan pekerjaan, keluarga, ekonomi, kesehatan, dan berbagai perjuangan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.

Tulisan, karena itu, semestinya tidak selalu datang sebagai beban tambahan.

Tulisan dapat datang sebagai teman.

Ketika Literasi Tidak Lagi Berarti Sekadar Membaca

Keterlibatan Wirendra dalam gerakan literasi di tingkat lokal kemudian mengubah hubungannya dengan kegiatan menulis.

Jika sebelumnya menulis merupakan terapi, perlahan kegiatan tersebut menjadi tanggung jawab.

Ia mulai merasa bahwa seseorang yang mengajak masyarakat membaca seharusnya juga bersedia menyediakan sesuatu yang pantas untuk dibaca.

Persoalannya, menulis dengan bahasa sederhana tidak pernah sesederhana kelihatannya.

Gagasan yang rumit dapat disembunyikan di balik istilah-istilah akademik. Sebaliknya, menyampaikan persoalan rumit dengan bahasa yang dapat dipahami banyak orang membutuhkan kerja yang jauh lebih serius.

Wirendra memilih jalan kedua.

Ia menulis tentang apa yang dilihat, dipikirkan, dialami, dan kadang-kadang dirasakan sendiri. Tema-temanya bergerak mengikuti kegelisahan dan perhatiannya. Ada persoalan masyarakat, pertanian, sejarah, kehidupan, manusia, lingkungan, hingga refleksi personal.

Ia tidak berusaha menempatkan dirinya sebagai orang yang mengetahui segala sesuatu.

Justru ada satu hal menarik dari caranya memandang tulisan: kesediaan mengakui kekurangan.

Wirendra bahkan dengan ringan mengakui bahwa pelajaran Bahasa Indonesia semasa sekolah bukanlah mata pelajaran dengan nilai terbaiknya. Kesadaran itu sempat melahirkan rasa minder ketika gagasan menerbitkan buku mulai muncul.

Di sinilah perjalanan buku pertamanya menjadi menarik.

Sebab sering kali penghalang terbesar seseorang untuk menghasilkan karya bukanlah ketidakmampuan.

Melainkan perasaan bahwa dirinya belum cukup pantas untuk menghasilkan karya.

Lima Tahun yang Akhirnya Menjadi Buku

Buku pertama Wirendra merupakan kumpulan tulisan yang lahir dalam rentang 2021 hingga 2026.

Lima tahun bukan waktu yang pendek.

Di dalam rentang tersebut terdapat perubahan suasana hati, pengalaman, perjumpaan, kegelisahan, pemikiran, dan perubahan cara memandang kehidupan. Pada masa awal, tulisan-tulisan itu banyak lahir mengikuti mood. Namun, dalam satu tahun terakhir, intensitas menulis meningkat.

Menulis tidak lagi menunggu suasana.

Ia telah menjadi kebiasaan.

Pada titik tertentu bahkan menjadi kebutuhan.

Ada kegelisahan yang terasa belum selesai sebelum dituliskan. Ada pemikiran yang terasa sayang jika hanya berhenti di kepala. Ada pengalaman yang mungkin menjadi persoalan pribadi seseorang, tetapi ternyata mempunyai gema dalam kehidupan banyak orang.

Keputusan menerbitkan buku tetap tidak datang dengan mudah.

Ada keraguan.

Ada rasa minder.

Dan, seperti banyak keputusan besar lainnya dalam kehidupan, terkadang seseorang hanya membutuhkan beberapa orang yang percaya kepadanya ketika dirinya sendiri masih ragu.

Wirendra menyebut kegigihan pasangan hidupnya, dorongan teman-teman dekat, bahkan—dengan selera humor yang tetap dipertahankannya—“sedikit rayuan mantan” sebagai bagian dari dorongan yang akhirnya membuat keberanian itu muncul.

Maka keputusan pun diambil.

Tulisan-tulisan yang selama bertahun-tahun hidup di layar telepon genggam akhirnya mendapat rumah yang berbeda.

Sebuah buku.

Bukan Tentang Menjadi Penulis Besar

Barangkali nilai penting buku pertama ini justru tidak terletak pada ambisi untuk menunjukkan bahwa Wirendra telah menjadi seorang sastrawan atau penulis besar.

Ia sendiri tidak mengklaim itu.

Buku ini lebih menyerupai catatan perjalanan seorang manusia yang pernah jatuh, berusaha memahami dirinya, lalu menemukan bahwa kata-kata dapat menjadi salah satu cara untuk berdiri kembali.

Menulis yang semula menjadi terapi berkembang menjadi kebiasaan. Kebiasaan berkembang menjadi tanggung jawab literasi. Tanggung jawab itu kemudian melahirkan sebuah buku.

Perjalanan tersebut mengingatkan kita pada sesuatu yang sering terlupakan.

Tidak semua karya besar dalam kehidupan dimulai dengan cita-cita besar.

Sebagian justru bermula dari kebutuhan paling sederhana: bertahan satu hari lagi.

Wirendra mungkin tidak pernah bermimpi menulis buku.

Namun, kehidupan rupanya mempunyai cara sendiri untuk mengubah arah seseorang.

Seorang anak yang tumbuh dalam keluarga tokoh koperasi memilih teknik. Seorang insinyur kemudian memasuki penelitian. Seorang peneliti turun ke pertanian. Seorang praktisi pertanian masuk ke ruang pemberdayaan dan politik. Dan seseorang yang pernah bergulat dengan depresi serta kecemasan akhirnya menemukan ruang lain melalui tulisan.

Mungkin karena itu buku pertamanya tidak perlu dibaca sebagai sekadar kumpulan artikel.

Di balik setiap tulisan terdapat perjalanan seorang manusia.

Ada kegelisahan.

Ada pencarian.

Ada kegagalan.

Ada humor.

Ada keberanian untuk mengakui ketidaksempurnaan.

Dan terutama, ada keputusan untuk tidak berhenti.

Wirendra menyampaikan terima kasih kepada ibunya, saudara-saudaranya, keluarga, pasangan hidup, teman-teman, serta para pembaca yang selama bertahun-tahun bersedia menerima tulisan-tulisannya melalui grup WhatsApp. Ucapan khusus juga ia sampaikan kepada sahabatnya, Enda Nasution, yang bersedia memberikan kata pengantar bagi buku pertamanya.

Pada akhirnya, buku ini mungkin lahir dari seorang yang dahulu merasa tidak cukup pandai menulis.

Justru di situlah ceritanya menjadi penting.

Sebab dunia tidak selalu membutuhkan tulisan dari orang yang merasa dirinya paling pandai.

Kadang-kadang dunia hanya membutuhkan seseorang yang mempunyai sesuatu untuk diceritakan—dan cukup berani untuk menuliskannya.

Lima tahun lalu, tulisan-tulisan Wirendra hanya berpindah dari satu grup WhatsApp ke grup lainnya.

Hari ini, tulisan-tulisan itu menjadi buku.

Dan mungkin perjalanan sesungguhnya baru dimulai.

Sebab ada masa ketika seseorang membaca buku untuk menemukan pengetahuan. Ada pula masa ketika seseorang menulis buku untuk menemukan kembali dirinya sendiri.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

17 hours ago
7 days ago
1 week ago
1 week ago
1 week ago
1 week ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor