x

Elektabilitas KDM Salip Prabowo di Survei SMRC, Pengamat: Sinyal Popularitas, Bukan Jaminan Pilpres

waktu baca 3 menit
Jumat, 31 Jul 2026 15:11 34 Dhanis Iswara

TODAYNEWS.ID – Pengamat Politik dari Citra Institute, Efriza, menanggapi rilis survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode Juli 2026 yang merilis tingginya angka elektabilitas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM).

Dalam simulasi calon presiden (Capres) survei tersebut, KDM meraup elektabilitas hingga 35 persen dan mengungguli Presiden Prabowo Subianto yang berada di urutan kedua.

Menurut Efriza, capaian ini menjadi bukti bahwa kinerja KDM mendapatkan respons positif dari masyarakat berkat aksi turun langsung ke lapangan yang dipadukan dengan optimalisasi media sosial hingga mampu mendongkrak kepercayaan publik.

“Ini memang bukti nyata KDM telah diperhitungkan oleh masyarakat sebagai calon presiden,” kata Efriza pada Jumat (31/7/2026).

Kendati namanya makin diperhitungkan di kancah nasional, Efriza memprediksi KDM bakal enggan dan sulit untuk maju dalam bursa Pilpres berhadapan dengan Prabowo Subianto lantaran faktor fatsoen (etika) politik dan relasi internal partai menjadi alasan utamanya.

“Meski popularitas dan elektabilitas cenderung meningkat, rasanya KDM enggan jika akan memilih berhadapan dengan Prabowo Subianto, sebab KDM adalah kader Partai Gerindra sedangkan Prabowo adalah Ketua Umumnya,” katanya.

Selain faktor relasi senior-junior di partai, kans KDM untuk kembali memimpin Jawa Barat dinilai masih sangat menggiurkan dan realistis pada Pilkada selanjutnya ketimbang berspekulasi di ranah Pilpres.

“Ditenggarai akan sulit KDM mencalonkan diri untuk maju di Pilpres disebabkan keengganan dirinya karena fatsoen politik maupun kans ia yang juga besar untuk dipilih maju kembali sebagai Gubernur Jawa Barat yang begitu menggiurkan,” kata Efriza.

Di sisi lain, menurut Efriza, melesatnya elektabilitas KDM justru membawa angin segar bagi Partai Gerindra. Partai berlambang kepala garuda ini dinilai beruntung karena memiliki dua figur eksekutif dengan daya tawar politik yang sangat tinggi.

Efriza bahkan berseloroh bahwa Gerindra memiliki kemewahan untuk meracik simulasi pasangan calon internal. “Hanya saja, hasil survei ini, sejatinya tidak bisa serta-merta disimpulkan bahwa KDM benar-benar lebih unggul secara nasional tehadap Prabowo,” sambungnya.

Untuk itu, Efriza mengingatkan publik agar tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa KDM telah benar-benar mendominasi secara nasional di atas Prabowo. Ia pun mengaitkan dinamika yang terjadi hari ini dengan fenomena politis yang pernah dialami Ridwan Kamil (RK).

“Kita harus refleksi kepada situasi Ridwan Kamil kemarin, berbagai hasil survei elektabilitas RK tinggi, tetapi penerimaan secara nasional belumlah kuat ketimbang waktu Joko Widodo maupun Anies Baswedan kemarin dari posisi eksekutif daerah yang diperhitungkan untuk menuju Pilpres,” imbuhnya.

Menurut Efriza, hasil survei tersebut hendaknya dapat dimaknai secara proporsional untuk memotret preferensi publik pada saat pengambilan data dengan kurun waktu tertentu, sehingga belum sepenuhnya dapat merefleksikan secara keseluruhan di tingkat nasional.

“Meningkatnya popularitas dan daya tarik personal KDM sebagai Gubernur Jawa Barat, bukan sebagai bukti bahwa ia telah definitif mengungguli Prabowo dalam kontestasi Pilpres, apalagi menunjukkan KDM dapat dipastikan akan mengikuti kontestasi Pilpres dan menang,” pungkasnya.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

3 days ago
4 days ago
6 days ago
1 week ago
1 week ago
1 week ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor