Anggota DPR RI Komisi II Fraksi PKS Dapil Kalimantan Timur, Aus Hidayat Nur. Foto: Istimewa Oleh: Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi PKS Dapil Kalimantan Timur, Aus Hidayat Nur
Setidaknya ada 2 hal yang perlu dipertimbangkan sebelum kita mengusik kondusifitas Kalimantan Timur ini, terutama bagi para elit politik.
Pertama, provinsi ini alamnya terlalu indah, masyarakatnya terlalu ramah, dan kehidupannya terlalu berkah.
Kedua, telah banyak coretan sejarah yang mengisahkan segala bentuk ambisi berlebih dan ego anak manusia yang kemudian berbalik merugikan dirinya sendiri.
Tuhan menyediakan pelajaran buat umat manusia melalui suatu hewan yang hidup di dua alam
Jika kita menaruh seekor kepiting di dalam ember terbuka, ia akan mudah memanjat keluar. Tapi jika kita menaruh sekumpulan kepiting, saat satu kawannya mencoba naik ke atas untuk selamat, kepiting yang lain akan menariknya kembali ke bawah.
Akibat saling tarik dan berebut posisi “paling atas”, tidak ada satu pun kepiting yang berhasil keluar. Akhirnya, mereka semua berakhir di kuali koki untuk dimasak.
Dunia pun mempertontonkan tentang bangsa yang hancur karena saling berebut kekuasaan
Yang anyar adalah perang saudara yang terjadi di Somalia. Setelah runtuhnya pemerintahan pusat, berbagai kelompok milisi berebut wilayah dan sumber daya. Alih-alih membangun stabilitas, mereka saling bertempur. Negara pun runtuh, ekonomi hancur, dan rakyat menderita.
Mari lihat kondisi di tempat kita bersama berdiri. Kalimantan Timur sekarang berada di titik yang benar-benar menentukan. Perubahan datang cepat, apalagi sejak pembangunan Ibu Kota Nusantara dimulai.
Jalan dibangun, investasi masuk, dan orang-orang dari berbagai daerah mulai berdatangan. Suasananya terasa berbeda, lebih dinamis, lebih sibuk, dan penuh harapan.
Daerah ini sejak dahulu juga dilimpahi sumber daya alam yang melimpah, dari batu bara, minyak, sampai hutan dan laut. Kota-kota seperti Balikpapan dan Samarinda terus berkembang, jadi pusat ekonomi yang hidup.
Tapi itu semua diikuti pula oleh tantangan yang patut kita cermati. Satu pertanyaan sederhana, apakah kita masih bisa tetap menjaga keutuhan Kalimantan Timur? Karena perubahan besar seperti ini bukan cuma soal peluang.
Di balik kesempatan yang diperebutkan, selalu ada potensi gesekan
Dan kalau kita tidak siap, yang tadinya membawa harapan justru bisa menimbulkan jarak, baik kerenggangan ekonomi, sosial, bahkan emosional di tengah masyarakat.
Kemudian jangan dilupakan masalah yang terjadi di seluruh belahan dunia yang tak mengecualikan daerah yang kita cinta ini, yaitu krisis energi akibat perang di Timur Tengah yang memberi dampak krisis ekonomi.
Elit politik, apalagi pejabat publik, dimanjakan berbagai fasilitas yang mungkin membuat mereka tak terlalu khawatir atas ancaman tersebut. Tapi jangan lupa, fasilitas yang mereka nikmati berasal dari uang rakyat, dan mereka pun dikalungi beban amanah untuk memikirkan rakyat.
Sesekali cobalah berhenti memikirkan manuver untuk menyerang lawan politik atau menaikkan posisi pribadi. Buka jendela rumah kita dan saksikan antrian BBM mengular atau price tag harga minyak makan yang nilainya semakin mencekik.
Itu semua adalah apa yang akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan di akhirat kelak.
Sadarkah kita tengah hidup di tanah anomali, di mana sumber energi melimpah tapi rakyatnya belum bisa menikmati listrik tanpa sering hidup mati? Dengan PR banyak tersisa, kalau kita keluar rumah dalam keadaan seperti Qarun yang memamerkan kemewahan kekayaannya, maka kita sama saja memancing kemarahan rakyat.
Kalau masih mau gaduh, hancurlah kita
Malu rasanya mendengar celotehan orang yang mempertanyakan ada apa di provinsi yang sedang kita bangun bersama, “ada apa di Bumi Etam? Ada ribut-ribut apa di sana?”
Tak perlu dipaparkan di sini, tapi bila Anda tanya AI apa yang sedang hangat di Kalimantan Timur, maka beberapa isu kegaduhan elit politik akan dipaparkan.
Mengapa ketika kita dituntut bersatu untuk memanfaatkan peluang, mengelola kekayaan alam, dan menyelesaikan kemelut energi dan ekonomi, kita malah bertikai tak sudah-sudah?
Tulisan ini mengajak kita untuk introspeksi, bukan membahas masalah yang tak mungkin selesai dalam beberapa alenia. Yang dibutuhkan adalah lapang dada dan berpihak untuk kesejahteraan rakyat.
Meski tidak pula kita perlu membungkam tiap kritik yang datang. Yang diinginkan adalah lebih banyak mendengar suara keresahan alih-alih saling memekik mengejar masing-masing ambisi.