x

Menyembelih Ego, Menemukan Berkah

waktu baca 4 menit
Rabu, 27 Mei 2026 06:00 250 Akbar Budi

Oleh Rani Badri Kalianda –  Founder & Facilitator Soul Of Speaking

Setiap Hari Raya Idul Adha datang, gema takbir kembali memenuhi langit.
Orang-orang mengenakan pakaian terbaiknya. Masjid dipenuhi doa. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan yang membawa hewan kurban.

Anak-anak tersenyum melihat sapi dan kambing yang akan disembelih.

Namun di tengah semua kemeriahan itu, ada satu pertanyaan sunyi yang jarang kita tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah kita benar-benar memahami hakekat kurban?

Ataukah Idul Adha hanya berubah menjadi tradisi tahunan yang ramai di permukaan, tetapi sepi dalam kesadaran?

Sebab sesungguhnya, Hari Raya Qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan.

Ia adalah simbol penyembelihan sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih liar di dalam diri manusia yaitu: Ego, keserakahan, rasa takut kehilangan, dan rasa tidak pernah cukup.

Di sinilah Idul Adha memiliki hubungan yang sangat dalam dengan hakekat Divine Abundance (keberlimpahan Ilahi).

Banyak orang hari ini hidup dengan tubuh yang kenyang, tetapi jiwa yang lapar.

Rumah semakin besar, tetapi hati semakin sempit. Teknologi semakin canggih, tetapi manusia semakin mudah cemas.Media sosial dipenuhi pamer kebahagiaan, namun diam-diam banyak orang sulit tidur karena tekanan hidup.

Kita hidup di zaman ketika manusia memiliki banyak hal, tetapi kehilangan rasa cukup.

Padahal dalam perspektif spiritual, keberlimpahan sejati bukanlah tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa damai hati kita ketika menjalani hidup.

Ada orang yang penghasilannya biasa saja, tetapi wajahnya teduh.

Makan sederhana, namun penuh syukur.
Tidurnya nyenyak.
Hubungannya hangat.
Langkah hidupnya ringan.

Sebaliknya, ada yang hartanya melimpah, tetapi pikirannya penuh ketakutan.

Takut rugi.
Takut tersaingi.
Takut jatuh miskin.
Takut kehilangan citra.

Bahkan takut melihat orang lain lebih bahagia dari dirinya.

Maka sesungguhnya, kemiskinan paling dalam bukan kekurangan harta, tetapi kehilangan ketenangan batin.

Dan Idul Adha datang untuk menyadarkan manusia tentang hal itu.

Nabi Ibrahim bukan diuji dengan sesuatu yang tidak ia cintai.

Beliau diuji justru melalui sesuatu yang paling beliau sayangi.

Karena Tuhan ingin menunjukkan bahwa sering kali yang menghalangi manusia merasakan keberlimpahan Ilahi bukan kurangnya rezeki, melainkan terlalu kuatnya keterikatan terhadap dunia.

Hari ini banyak orang bekerja bukan lagi untuk hidup, tetapi untuk memenuhi gengsi.

Banyak yang membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tetapi karena takut dianggap tertinggal.

Banyak yang memaksakan diri terlihat sukses di depan orang lain, padahal diam-diam jiwanya lelah.Dan kita sering menyebut diri mencari kebahagiaan, padahal sebenarnya kita sedang mengejar pengakuan.

Di sinilah makna kurban menjadi sangat relevan dalam kehidupan modern.

Kurban bukan sekadar menyembelih kambing atau sapi.

Kurban adalah keberanian menyembelih “aku”.
Menyembelih rasa ingin dipuji.
Menyembelih iri hati.
Menyembelih kerakusan.
Menyembelih rasa takut hidup sederhana.
Menyembelih kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.

Karena selama manusia masih diperbudak oleh keinginan untuk terlihat lebih hebat dari orang lain, selama itu pula ia akan sulit merasakan damai.

Dalam dunia sufistik, manusia yang terlalu melekat pada dunia ibarat seseorang yang meminum air laut. Semakin diminum, semakin haus. Barangkali situasi ini yang sedang terjadi pada banyak manusia modern saat ini.

Mereka mengejar keberlimpahan di luar diri, tetapi melupakan sumber keberlimpahan di dalam jiwa.

Padahal Divine Abundance lahir ketika manusia mulai percaya bahwa hidup tidak harus sempurna untuk bisa disyukuri.

Ketika seseorang mampu menikmati secangkir kopi tanpa merasa hidupnya kurang.

Ia mampu tertawa bersama keluarga tanpa harus memamerkannya ke media sosial.

Mampu berbagi walau dirinya belum berlimpah. Mampu merasa cukup tanpa harus selalu lebih unggul dari orang lain. Karena ternyata… hati yang tenang jauh lebih mahal daripada gaya hidup yang terlihat mahal.

Hari Raya Idul Adha sesungguhnya sedang mengajarkan satu rahasia besar kehidupan:
bahwa semakin manusia ikhlas melepaskan, semakin Tuhan memenuhi jiwanya dengan kedamaian.

Barangkali, inilah bentuk keberlimpahan tertinggi yang selama ini dicari banyak orang.

Bukan hidup tanpa masalah.
Bukan rekening tanpa batas.
Bukan pujian dari manusia.

Melainkan hati yang tetap tenang meski dunia terus berubah. Sebab pada akhirnya, manusia tidak lelah karena hidup terlalu berat.

Manusia lelah karena terlalu banyak menggenggam hal yang sebenarnya tidak perlu digenggam. Maka Idul Adha adalah jalan pulang. Jalan untuk kembali menyadari bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan.

Dan semakin kita sadar bahwa semuanya milik Tuhan, semakin ringan langkah kita menjalani kehidupan. Karena orang yang hidup dalam Divine Abundance tidak selalu memiliki segalanya. Tetapi ia mampu merasakan kehadiran Tuhan di dalam segala hal. (RBK)

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

11 hours ago
3 days ago
4 days ago
4 days ago
6 days ago
6 days ago

LAINNYA
x
x
domain