x

Ekonomi Kita Tidak Buruk, Tapi Juga Belum Sepenuhnya Benar

waktu baca 4 menit
Sabtu, 11 Apr 2026 12:02 25 Dhanis Iswara

Oleh: Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti

Di ruang-ruang resmi, kita mendengar kalimat yang menenangkan

Pemerintah, melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia stabil, terkendali, bahkan resilien di tengah tekanan global. Pernyataan itu bukan ilusi. Ia berdiri di atas angka-angka yang nyata.

Cadangan devisa berada di kisaran USD 151,9 miliar, cukup untuk menopang lebih dari enam bulan impor sebuah bantalan yang memberi kepercayaan diri pada stabilitas eksternal. Rasio utang dijaga di sekitar 38–39% dari PDB, relatif moderat dibanding banyak negara berkembang.

Dan defisit fiskal masih terkendali—berada di kisaran 2,3% dan dalam dinamika kebijakan berpotensi melebar mendekati 2,9% PDB, namun tetap disiplin di bawah batas aman 3%. Kredit perbankan tumbuh mendekati 10%, dengan kredit investasi yang bahkan melampaui 20%.

Dari sudut pandang seorang teknokrat atau bahkan investor global, ini adalah sinyal yang menenangkan: disiplin fiskal terjaga, stabilitas eksternal kuat, dan sistem keuangan masih menyalurkan likuiditas.

Namun ekonomi tidak hanya soal stabilitas, ini adalah soal arah. Dan di sinilah kita perlu menggeser cara membaca: dari sekadar apakah kita aman, menjadi apakah kita bergerak ke arah yang benar.

Jika kita turun dari meja kebijakan ke lantai kehidupan, kita menemukan sinyal yang berbeda. Konsumsi rumah tangga yang menopang lebih dari 50% ekonomi kita masih tumbuh, tetapi dengan intensitas yang melemah. Kelas menengah mulai menahan belanja. UMKM tetap hidup, tetapi banyak yang tidak berkembang.

Dalam kerangka ekonomi, ini bukan kontradiksi—ini adalah fase

Negara berkembang sering kali mencapai titik di mana stabilitas makro berhasil dicapai, tetapi transformasi struktural belum sepenuhnya terjadi. Indonesia hari ini berada tepat di titik itu: tidak lagi rapuh, tetapi juga belum sepenuhnya produktif.

Masalah utamanya bukan pada kurangnya pertumbuhan, melainkan pada kualitas pertumbuhan.

Pertumbuhan kita masih bertumpu pada konsumsi domestik dan komoditas. Investasi memang masuk, tetapi sebagian besar terkonsentrasi pada sektor ekstraktif dan hilirisasi berbasis sumber daya alam. Kredit memang meningkat, tetapi belum sepenuhnya mengalir ke sektor yang mampu menciptakan produktivitas jangka panjang.

Dalam bahasa yang lebih sederhana: kita sudah membangun mesin, tetapi belum sepenuhnya mengganti bahan bakarnya.

Perbandingan dengan negara lain memperjelas posisi kita. Malaysia, dengan pertumbuhan yang sedikit lebih rendah, telah lebih dulu memperkuat basis manufaktur bernilai tinggi dan integrasi dalam rantai pasok global.

Filipina tumbuh lebih cepat, didorong oleh konsumsi dan remitansi, meski dengan volatilitas yang lebih tinggi. Australia menunjukkan bagaimana produktivitas, institusi, dan kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi ekonomi maju.

Indonesia memiliki keunggulan ukuran, stabilitas, dan potensi demografi. Tetapi keunggulan itu belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi lonjakan produktivitas.

Di sinilah pentingnya membaca kebijakan pemerintah secara lebih dalam. Apa yang dilakukan hari ini—menjaga defisit, memperkuat cadangan devisa, mendorong investasi adalah langkah yang benar.

Tetapi dalam kerangka ekonomi jangka panjang, langkah-langkah itu baru berada pada tahap stabilisasi, belum sepenuhnya masuk ke tahap transformasi.

Transformasi membutuhkan sesuatu yang berbeda: bukan hanya kehati-hatian, tetapi juga keberanian untuk mengalokasikan ulang sumber daya secara lebih agresif.

Kredit perlu lebih terarah ke sektor produktif dengan produktivitas tinggi. Investasi perlu didorong masuk ke industri manufaktur dan teknologi, bukan hanya berhenti pada ekstraksi.

UMKM perlu dipaksa dalam arti positif untuk naik kelas melalui integrasi dengan rantai pasok modern dan adopsi teknologi. Dan yang tidak kalah penting, daya beli masyarakat harus dijaga, karena tanpa permintaan yang sehat, tidak ada insentif bagi produksi untuk tumbuh.

Kita tidak sedang berada dalam kondisi yang salah. Tetapi kita juga belum sepenuhnya berada di jalur yang optimal

Dalam perspektif seorang investor, Indonesia hari ini adalah negara dengan risiko yang terkendali, tetapi dengan potensi yang belum sepenuhnya terealisasi. Dalam perspektif seorang ekonom pembangunan, ini adalah fase krusial di mana kegagalan melakukan transformasi dapat membuat negara terjebak dalam middle-income trap.

Dan dalam perspektif kita sebagai warga, ini adalah pertanyaan yang lebih sederhana namun lebih mendasar: apakah pertumbuhan ini benar-benar akan mengubah kehidupan kita dalam satu dekade ke depan?

Jawabannya bergantung pada apa yang kita lakukan hari ini. Karena stabilitas, pada akhirnya, hanyalah alat. Ia memberi waktu. Ia memberi ruang. Tetapi ia tidak pernah menjamin kemajuan.

Maka tantangan kita ke depan menjadi jelas: mengubah stabilitas menjadi produktivitas, dan produktivitas menjadi kesejahteraan yang terasa.

Dan mungkin tulisan ini bisa diringkas dalam satu kalimat yang harus kita jaga bersama: Jika stabilitas tidak segera ditransformasikan menjadi lompatan produktivitas, maka ia hanya akan menjadi jeda panjang sebelum kita tertinggal.

Jika disiplin kebijakan tetap dijaga, jika arah berani disempurnakan tanpa ragu, maka Indonesia tidak hanya akan dikenal sebagai negara yang stabil, tetapi sebagai negara yang berhasil mengubah stabilitas menjadi kekuatan.

Dan dari dalam rumah sendiri, itulah satu-satunya ukuran keberhasilan yang benar-benar berarti: membuat rakyat sejahtera.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

21 hours ago
1 day ago
1 day ago
2 days ago
2 days ago
2 days ago

LAINNYA
x
x