x

Perang Iran-AS-Israel Berpotensi Tekan Rupiah dan Bebani Fiskal Indonesia

waktu baca 3 menit
Senin, 2 Mar 2026 09:22 63 Afrizal Ilmi

TODAYNEWS.ID — Eskalasi konflik bersenjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel dipastikan membawa konsekuensi ekonomi bagi Indonesia. Meski jauh dari pusat konflik, dampak rambatan dinilai tak terhindarkan melalui jalur pasar keuangan dan energi global.

Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufiqurrahman, menilai sentimen negatif dari Timur Tengah akan menekan pasar keuangan dunia, termasuk Indonesia. Ia menekankan bahwa perhatian kini tertuju pada respons modal asing terhadap lonjakan ketidakpastian global.

Menurut Rizal, ketegangan geopolitik berskala besar di kawasan strategis biasanya mendorong investor menarik dana dari negara berkembang. Arus modal keluar atau capital outflow pun berpotensi terjadi secara masif di pasar domestik.

“Setiap eskalasi konflik di Timur Tengah biasanya menaikkan ketidakpastian global sehingga investor mengalihkan dana dari negara berkembang ke aset aman,” ujar Rizal Senin (2/3/2026). Pernyataan ini menggambarkan pola klasik perpindahan dana ke instrumen yang dianggap lebih stabil.

Tekanan tersebut diperkirakan memicu pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Selain itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) berpotensi naik dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat mengalami koreksi.

Rizal juga meluruskan anggapan bahwa krisis akan melemahkan mata uang Amerika Serikat. Ia menyebut kondisi justru sebaliknya karena dolar berfungsi sebagai aset lindung nilai global.

“Konflik geopolitik umumnya tidak membuat dolar melemah, justru sebaliknya. Dalam kondisi krisis, dolar berfungsi sebagai mata uang safe haven sehingga permintaannya meningkat,” tegasnya. Kuatnya dolar ini dinilai akan memperberat tekanan terhadap Rupiah.

Menghadapi potensi gejolak tersebut, Bank Indonesia (BI) diharapkan melakukan langkah terukur di pasar valuta asing. Intervensi dinilai penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak terperosok akibat kepanikan pasar.

Rizal menilai peluang penguatan Rupiah di tengah perang hampir mustahil terjadi. Ia menegaskan, “Karena itu, peluang rupiah menguat akibat perang Iran–Israel & AS relatif kecil, yang lebih mungkin terjadi adalah capital outflow dan kebutuhan intervensi valas oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar.”

Di luar sektor keuangan, dampak yang lebih mengkhawatirkan terletak pada distribusi energi global. Skenario serius muncul apabila Iran memblokade Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia setiap hari.

Sebagai negara net importer minyak, Indonesia sangat rentan terhadap gangguan pasokan dari jalur tersebut. Penutupan Selat Hormuz akan mendorong harga minyak mentah dunia melonjak dan membengkakkan biaya impor Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Dampaknya menjalar ke fiskal melalui peningkatan subsidi dan kompensasi energi, serta ke inflasi karena biaya transportasi dan logistik meningkat sehingga harga pangan ikut terdorong naik,” papar Rizal. Kenaikan harga energi dinilai akan menciptakan efek domino pada berbagai sektor.

Pada akhirnya, kombinasi pelemahan mata uang dan lonjakan harga energi berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah. “Ini sekaligus rupiah tertekan, inflasi meningkat, dan ruang fiskal pemerintah ikut menyempit,” tutupnya.

 

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

4 hours ago
10 hours ago
23 hours ago
1 day ago

LAINNYA
x
x