Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan kepada awak media usai menghadiri agenda di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (3/6/2026). (Foto: ANTARA) TODAYNEWS.ID – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu kembali menguat seiring solidnya fundamental perekonomian nasional.
“Saya yakin (IHSG) akan naik lagi karena fondasi ekonomi bagus,” kata Purbaya kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu.
Bendahara negara itu mengaku tidak menetapkan target khusus untuk level IHSG sepanjang tahun ini.
Meski demikian, menurut dia, sejumlah indikator ekonomi berpotensi mendorong pergerakan IHSG kembali ke jalur positif.
Salah satu indikator tersebut adalah inflasi pada Mei 2026 yang tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan (year on year/yoy), masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
Purbaya menilai gejolak yang terjadi di pasar saham saat ini lebih banyak dipicu oleh kekhawatiran jangka pendek yang berkembang akibat berbagai isu negatif di dalam negeri.
Padahal, lanjutnya, permintaan domestik masih menunjukkan kinerja yang relatif stabil.
Menurut dia, daya beli masyarakat tetap kuat. Hal itu terlihat dari tingginya aktivitas masyarakat di berbagai daerah, termasuk Jakarta, serta meningkatnya permintaan terhadap kebutuhan tersier seperti tempat hiburan dan hotel.
Kondisi ekonomi yang tetap terjaga juga tercermin dari capaian penerimaan pajak.
Kementerian Keuangan melaporkan penerimaan pajak hingga 30 April 2026 mencapai Rp646,3 triliun atau tumbuh 16,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp556,9 triliun.
“Jangan takut. Fundamental ekonomi bagus. Ini mungkin ada ketakutan orang jangka pendek saja. Fondasi ekonomi bagus, nggak ada masalah,” ujar Purbaya.
Ia juga menegaskan pemerintah akan terus menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mempertahankan sentimen pasar agar tetap kondusif.
Pada perdagangan Rabu sore, IHSG ditutup melemah 254,36 poin atau 4,11 persen ke level 5.941,07.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 terkoreksi 30,28 poin atau 4,89 persen ke posisi 588,99.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai pelemahan IHSG tidak terlepas dari perhatian investor terhadap tata kelola dan kredibilitas kebijakan Indonesia.
Menurut Liza, terdapat sedikitnya lima faktor utama yang saat ini membayangi sentimen investor. Faktor tersebut meliputi isu tata kelola dan kredibilitas kebijakan (governance and policy credibility) setelah keluarnya outlook negatif dari Moody’s dan Fitch Ratings, serta tekanan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS.
Selain itu, investor juga mencermati menyusutnya kelompok kelas menengah yang selama ini menjadi penggerak utama konsumsi domestik, berlanjutnya arus keluar dana asing (foreign outflow), serta meningkatnya risiko kepemimpinan dan komunikasi kebijakan (leadership and policy communication risk) di mata investor global.