x

Trump Batalkan Misi Utusan AS ke Pakistan, Prospek Damai dengan Iran Kian Suram

waktu baca 3 menit
Minggu, 26 Apr 2026 08:00 15 Afrizal Ilmi

TODAYNEWS.ID — Presiden Donald Trump membatalkan kunjungan dua utusan Amerika Serikat ke Pakistan, memperburuk peluang tercapainya perdamaian dengan Iran.

Keputusan ini diambil di tengah kebuntuan diplomasi setelah Menteri Luar Negeri Iran meninggalkan Islamabad tanpa membuka ruang negosiasi dengan Washington.

Pembatalan tersebut menyasar rencana perjalanan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Keduanya sedianya bertolak ke Pakistan dalam upaya melanjutkan komunikasi diplomatik.

Trump mengungkapkan alasan pembatalan melalui media sosial. Ia menilai situasi kepemimpinan di Iran sedang tidak jelas.

“Terlalu banyak waktu terbuang untuk perjalanan, terlalu banyak pekerjaan! Selain itu, ada perselisihan dan kebingungan besar di dalam ‘kepemimpinan’ mereka. Tidak ada yang tahu siapa yang bertanggung jawab, termasuk mereka sendiri. Selain itu, kita memiliki semua kartu, mereka tidak punya satu pun! Jika mereka ingin berbicara, yang harus mereka lakukan hanyalah menelepon!!!” tulis Trump.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi meninggalkan Islamabad tanpa hasil konkret. Ia tidak menunjukkan indikasi akan membuka perundingan langsung dengan Amerika Serikat.

Araghchi sempat bertemu Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan sejumlah pejabat lainnya. Namun, tidak ada terobosan yang dihasilkan dari pertemuan tersebut.

Meski demikian, Araghchi menyebut kunjungannya tetap membawa manfaat. Ia menegaskan telah menyampaikan posisi Iran terkait upaya mengakhiri konflik.

“Telah berbagi posisi Iran mengenai kerangka kerja yang dapat diterapkan untuk mengakhiri perang di Iran secara permanen. Masih harus dilihat apakah AS benar-benar serius tentang diplomasi,” ujarnya.

Setelah dari Pakistan, Araghchi dilaporkan terbang ke Muscat. Di sana, ia dijadwalkan bertemu pejabat senior untuk membahas hubungan bilateral dan perkembangan kawasan.

Iran juga menolak kembali membuka perundingan langsung dengan Amerika Serikat. Sumber diplomatik menyebut Teheran tidak akan menerima tuntutan maksimal dari Washington.

“Pada prinsipnya, pihak Iran tidak akan menerima tuntutan maksimalis,” ujar sumber tersebut.

Ketegangan antara kedua negara semakin meningkat seiring kebijakan Iran yang membatasi akses di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan rute vital bagi distribusi energi global.

Di sisi lain, Amerika Serikat memberlakukan pembatasan ekspor minyak Iran. Kebijakan saling tekan ini memperdalam kebuntuan yang terjadi.

Konflik bermula dari serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Sejak saat itu, Iran melakukan serangan balasan terhadap target di Israel dan pangkalan AS di kawasan Teluk.

Meski saat ini gencatan senjata tengah berlangsung, ketegangan belum mereda. Situasi tersebut berdampak pada lonjakan harga energi global.

Kenaikan harga energi turut memicu inflasi dan memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi dunia. Kondisi ini menambah tekanan bagi berbagai negara.

Sementara itu, pihak Gedung Putih menyebut masih ada peluang kemajuan diplomasi. Sekretaris pers Karoline Leavitt menyatakan pihaknya melihat perkembangan dari Iran.

Wakil Presiden JD Vance juga disebut siap melanjutkan upaya diplomasi. Ia sebelumnya memimpin perundingan awal yang belum menghasilkan kesepakatan.

Dengan pembatalan kunjungan utusan AS, jalur diplomasi kini menghadapi tantangan baru. Prospek perdamaian antara Washington dan Teheran pun masih belum menunjukkan titik terang.

 

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

2 days ago
2 days ago
3 days ago
4 days ago
4 days ago
4 days ago

LAINNYA
x
x