x

Bahan Baku Impor 90 Persen dan Beban BPJS Ditengarai Jadi Pemicu Mahal-Murahnya Obat BUMN Farmasi

waktu baca 2 menit
Rabu, 10 Jun 2026 06:34 29 Dhanis Iswara

TODAYNEWS.ID – Anggota Komisi VI DPR RI, Asep Wahyuwijaya, merespon soal anggapan mahalnya harga obat-obatan buatan Holding BUMN Farmasi di bawah Bio Farma Group dibanding obat buatan perusahaan swasta nasional.

Hal itu disampaikan Asep usai menghadiri rapat Komisi VI DPR bersama PT Biofarma beserta Subholding di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Menurut Asep, persoalan harga obat ini sangat berkaitan dengan tata kelola, momentum produksi, serta ketergantungan pada rantai pasok global.

Ia meluruskan bahwa anggapan mahal tersebut tidak bisa digeneralisir untuk semua jenis obat, terutama untuk kategori generik.

“Prinsipnya begini tadi (di dalam rapat dijelaskan) ya, kan sesungguhnya kalau produk generik itu, nggak ada brand kan, dia generik murah, tidak ada merk, itu kan nggak ada masalah harganya,” kata Asep kepada wartawan.

Asep mensinyalir perbedaan harga yang muncul di pasar kemungkinan besar dipicu oleh ketatnya persaingan dan tingginya biaya produksi akibat ketergantungan bahan baku dari luar negeri yang mencapai 90 persen.

“Barangkali ini soal persaingan. Di mana beberapa obat yang tidak bermerek itu, itu kan tentu, saya cek ya, 90 persen bahan bakunya itu impor. Saya khawatir juga ada problem kenaikannya di situ,” jelasnya.

Selain faktor impor, fluktuasi harga komoditas global saat obat tersebut diproduksi juga memegang peranan penting dalam menentukan harga jual akhir ke masyarakat.

“Tadi itu kembali soal kapan diproduksinya. Sepanjang kemudian murah dari awal, pasti akan murah juga,” tambahnya.

Lebih lanjut, Asep menyoroti kondisi salah satu anggota holding, yaitu PT Indofarma Tbk, yang porsi bisnisnya dinilai masih terlalu bertumpu pada pasar jaminan kesehatan pelat merah.

“Kita tadi juga ngobrol di holding ya, Indofarma bisnisnya itu masih bertumpu pada BPJS, sebesar 50 persen. Dia berharap di situ. BPJS kan sebetulnya murah harganya,” ungkap Asep.

Meskipun margin dari BPJS cenderung tipis, Asep melihat peluang bagi Bio Farma Group secara keseluruhan untuk menata ulang portofolio produknya agar bisa lebih kompetitif dan menguntungkan.

“Ada peluang bisnis obat itu menjadi lebih kompetitif. Nah, itu barangkali dengan kondisi tersebut, pengaturan harga obat, jenis obat, hingga berat obat, bisa juga dibuat lebih menguntungkan buat Bio Farma Group secara keseluruhan,” urainya.

Menutup pernyataannya, Asep menegaskan bahwa Komisi VI DPR RI akan terus mendalami tata kelola internal BUMN Farmasi dan melakukan pengecekan langsung di lapangan untuk memetakan produk mana saja yang dinilai kemahalan oleh publik.

“Nah ini kita cross-check nih, obatnya, obat apa yang mahal itu, kan itu pasti tidak semua. Karena kalau kita bikin obat generik, itu pasti juga lebih murah kondisinya,” pungkasnya.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

1 hour ago
9 hours ago
12 hours ago
2 days ago
7 days ago
1 week ago

LAINNYA
x
x

mancingduit