Umat Kristen Palestina. TODAYNEWS.ID – Umat Kristen Palestina dilaporkan terus menghadapi peningkatan kekerasan dan kesulitan ekonomi di seluruh Gaza, Yerusalem (Al-Quds), dan Tepi Barat dari serangan tentara rezim Zinonis maupun pemukim Israel.
Komunitas yang menjuluki diri mereka sebagai “batu hidup” (living stones) ini telah menetap di Tanah Suci selama lebih dari dua milenium.
Kendati demikian, keberadaan mereka kini dinilai berada di ambang kepunahan. Pendiri sekaligus Presiden Universitas Dar al-Kalima Betlehem, Pendeta Mitri Raheb, memperingatkan ancaman nyata tersebut.
“Jika kondisi saat ini terus berlanjut, tidak akan ada satu pun warga Kristen Palestina yang tersisa pada tahun 2050,” kata Raheb, melansir laporan kantor berita Tasnim, pada Sabtu (8/8/2026).
Sejak eskalasi konflik di Gaza meletus pada akhir 2023, lebih dari 200 keluarga Kristen tercatat telah meninggalkan Tepi Barat.
Tekanan harian berupa penambahan pos pemeriksaan militer serta eskalasi serangan pemukim Israel melumpuhkan sektor perekonomian lokal dan memicu rasa putus asa, terutama di kalangan generasi muda.
Diperkirakan antara 40.000 hingga 45.000 umat Kristen tinggal di Tepi Barat saat ini, yang mewakili sedikit lebih dari satu persen dari populasi.
Pada tahun 1967, ketika Israel mulai menduduki wilayah tersebut, umat Kristen berjumlah sekitar enam persen.
Komunitas Kristen telah beremigrasi dari kota-kota Tepi Barat dalam gelombang-gelombang berturut-turut sejak abad ke-18, dengan diaspora Kristen Palestina yang besar kini telah menetap di Amerika, termasuk lebih dari 40.000 orang di Chili saja.
Menurut Pendeta Raheb, lebih dari 200 keluarga Kristen telah bermigrasi dari Tepi Barat sejak perang Gaza dimulai pada tahun 2023.
Para pemimpin gereja mengatakan kepada AFP bahwa mereka melihat peningkatan migrasi di kalangan anggota muda jemaat mereka.
Umat Kristen di Tepi Barat terkonsentrasi di Al-Quds timur dan Betlehem yang dianeksasi Israel, serta Ramallah dan beberapa desa serta kota di sekitarnya.
Di kota Taybeh, sebelah timur Ramallah — kota terakhir yang sepenuhnya beragama Kristen di Tepi Barat — gereja-gereja telah mendokumentasikan emigrasi lebih dari 15 keluarga sejak tahun 2023.
Jumlah penduduknya, yang sekarang berjumlah 1.200 jiwa, mencapai 3.000 jiwa pada tahun 1980-an.
Kota ini telah berulang kali menjadi sasaran serangan pemukim Israel dalam beberapa tahun terakhir, yang menargetkan lahan, properti penduduk, dan bahkan tempat-tempat suci.
“Penderitaan sehari-hari yang disebabkan oleh kurangnya keamanan akibat serangan-serangan tersebut, ditambah dengan kondisi ekonomi yang sulit, mendorong warga untuk mempertimbangkan kembali masa depan mereka,” kata Pastor Bashar Fawadleh, pastor paroki Gereja Latin di Taybeh, kepada AFP.