Selat Hormuz. Sumber: Gemini AI TODAYNEWS.ID — Sejumlah negara anggota NATO menolak terlibat dalam rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memblokade Selat Hormuz, memicu potensi ketegangan baru di dalam aliansi militer Barat.
Perbedaan sikap ini menandai retakan serius antara Washington dan sekutu Eropa di tengah eskalasi konflik dengan Iran.
Aliansi NATO memilih pendekatan berbeda dalam merespons situasi tersebut. Mereka menyatakan hanya akan mempertimbangkan intervensi setelah konflik berakhir.
Langkah itu dinilai berisiko memperburuk hubungan antara Amerika Serikat dan sekutunya. Perbedaan strategi semakin terlihat jelas dalam penanganan krisis kawasan.
Sebelumnya, Trump mengumumkan rencana kerja sama militer dengan negara lain untuk memblokir seluruh lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Kebijakan ini diambil setelah pembicaraan akhir pekan gagal mengakhiri konflik enam minggu dengan Iran.
Namun, militer Amerika Serikat kemudian memberikan klarifikasi terkait kebijakan tersebut. Blokade disebut hanya berlaku bagi kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran.
Rencana blokade itu dijadwalkan mulai pukul 14.00 GMT pada Senin (13/4/2026). Kebijakan ini langsung menjadi perhatian global karena dampaknya terhadap jalur energi dunia.
Sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026, Iran disebut telah membatasi akses Selat Hormuz bagi kapal asing. Pengecualian hanya diberikan kepada armada mereka sendiri.
Teheran bahkan disebut berupaya menjadikan kontrol atas jalur strategis tersebut bersifat permanen. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah mengenakan pungutan bagi kapal yang melintas.
“Blokade akan segera dimulai. Negara-negara lain akan terlibat dalam blokade ini,” kata Trump dalam unggahan di Truth Social, Minggu (12/4/2026).
Meski demikian, sejumlah anggota NATO seperti Inggris dan Prancis menolak untuk terlibat. Mereka lebih memilih mendorong jalur diplomatik dibandingkan aksi militer.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi distribusi energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi kawasan tersebut.
Penolakan ini menambah daftar gesekan antara Trump dan sekutu Eropa. Sebelumnya, ia juga mengancam akan menarik Amerika Serikat dari NATO.
Ketegangan semakin meningkat setelah beberapa negara Eropa menolak penggunaan wilayah udara mereka. Penolakan itu terkait operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan sikap negaranya secara terbuka. Ia menolak keterlibatan Inggris dalam blokade.
“Kami tidak mendukung blokade,” ujar Starmer kepada BBC.
Ia menambahkan sikap tersebut tetap dipegang meski ada tekanan. “Keputusan saya sangat jelas bahwa apa pun tekanannya, dan memang ada tekanan yang cukup besar, kami tidak akan terseret ke dalam perang,” ujarnya.