Israel serang pemukiman padat penduduk di Lebanon. Foto: Tasnim TODAYNEWS.ID — Israel dan Lebanon sepakat memulai negosiasi langsung setelah pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat dinilai produktif, menjadi langkah penting di tengah konflik yang telah menelan ribuan korban.
Kesepakatan ini diharapkan membuka jalan menuju penghentian permusuhan antara kedua negara.
Pengumuman tersebut disampaikan oleh juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott. Ia menyebut pertemuan menghasilkan kemajuan signifikan.
“Kedua pihak mengadakan diskusi produktif tentang langkah-langkah menuju peluncuran negosiasi langsung antara Israel dan Lebanon,” kata Pigott mengutip dari CNN, Rabu (15/4/2026).
Ia menambahkan bahwa kedua negara telah mencapai kesepakatan awal. Negosiasi akan digelar pada waktu dan tempat yang disepakati bersama.
“Semua pihak sepakat untuk meluncurkan negosiasi langsung pada waktu dan tempat yang disepakati bersama,” imbuhnya, dikutip AFP.
Pertemuan tersebut berlangsung di Washington, Amerika Serikat. Diskusi berjalan selama lebih dari dua jam.
Proses mediasi dipimpin oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Amerika Serikat berperan sebagai fasilitator utama dalam pertemuan tersebut.
Sejumlah pejabat tinggi turut hadir dalam pembicaraan. Di antaranya Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Hamadeh dan Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter.
Selain itu, Duta Besar AS untuk Lebanon Micel Issa juga hadir sebagai fasilitator. Kehadiran para diplomat menunjukkan keseriusan kedua pihak.
Pemerintah Amerika Serikat menyambut positif hasil pertemuan tersebut. Mereka menyebutnya sebagai tonggak penting dalam upaya diplomasi.
“AS mengucapkan selamat kepada kedua negara atas tonggak sejarah ini dan menyatakan dukungannya untuk pembicaraan lebih lanjut,” ujar Pigott.
Ia juga menyinggung rencana pemerintah Lebanon. Salah satunya adalah memulihkan kontrol penuh negara atas kekuatan bersenjata.
“Termasuk rencana pemerintah Lebanon untuk memulihkan monopoli kekuatan dan mengakhiri pengaruh Iran yang berlebihan,” imbuhnya.
Amerika Serikat menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus dicapai melalui jalur resmi. Proses tersebut harus melibatkan kedua pemerintah dengan mediasi AS.
Situasi konflik di kawasan turut menjadi latar belakang kesepakatan ini. Lebanon sebelumnya terseret dalam konflik regional yang lebih luas.
Ketegangan meningkat sejak 2 Maret setelah kelompok Hizbullah melancarkan serangan ke Israel. Sejak itu, konflik terus meluas.
Serangan balasan Israel dilaporkan menewaskan lebih dari 2.000 orang. Selain itu, lebih dari satu juta orang terpaksa mengungsi akibat eskalasi konflik.