Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan kepada awak media usai menghadiri agenda di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (3/6/2026). (Foto: ANTARA) TODAYNEWS.ID — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi berpotensi mengalami penurunan apabila harga minyak mentah dunia terus melemah dalam beberapa waktu ke depan.
Optimisme itu muncul setelah harga minyak global terkoreksi menyusul perkembangan terbaru terkait pasokan energi internasional.
Purbaya menjelaskan bahwa pergerakan harga BBM nonsubsidi di dalam negeri sangat dipengaruhi oleh dinamika harga minyak dunia. Karena itu, tren penurunan harga energi global dapat menjadi faktor yang mendorong penyesuaian harga BBM di pasar domestik.
Menurutnya, kenaikan harga Pertamax dan sejumlah BBM nonsubsidi sebelumnya tidak terlepas dari lonjakan harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut terjadi ketika ketidakpastian geopolitik global meningkat dan memicu tekanan pada pasar energi.
Meski harga BBM nonsubsidi sempat naik, pemerintah tetap mempertahankan harga BBM subsidi agar tidak membebani masyarakat secara lebih luas. Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga daya beli dan stabilitas ekonomi nasional.
“Salah satu tekanan yang kita alami adalah ketika harga minyak dunia naik, kita terpaksa menaikkan sebagian harga BBM yang tidak disubsidi walaupun yang subsidi kita pertahankan, tetapi tekanannya sudah menimbulkan kegaduhan di masyarakat,” kata Purbaya dalam rapat kerja bersama Komite IV DPD RI, Senin (22/6/2026).
Purbaya menilai peluang penurunan harga minyak dunia mulai terbuka seiring munculnya harapan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Jika kondisi tersebut berlanjut, harga energi global diperkirakan akan bergerak lebih stabil.
Ia meyakini pelemahan harga minyak mentah dunia dapat berdampak langsung terhadap harga BBM nonsubsidi di Indonesia. Dengan demikian, masyarakat berpotensi menikmati harga bahan bakar yang lebih rendah dibandingkan saat ini.
“Namun saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun, sehingga fondasi pertumbuhan ekonomi kita akan semakin kuat,” ujar Purbaya.
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada Juni 2026. Harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Kendati terjadi kenaikan harga BBM nonsubsidi, Purbaya menilai dampaknya terhadap inflasi nasional tidak terlalu besar. Ia menilai penggunaan Pertamax lebih banyak berasal dari kendaraan pribadi dibanding sektor distribusi barang.
Karena bukan bahan bakar utama angkutan logistik, kenaikan harga Pertamax dinilai tidak memberikan tekanan signifikan terhadap biaya distribusi nasional. Faktor tersebut membuat dampaknya terhadap inflasi relatif terbatas.
“Dampaknya harusnya relatif minim karena kan Pertamax enggak dipakai angkutan barang,” kata Purbaya.
Di tengah tekanan global, pemerintah terus memantau berbagai indikator ekonomi yang menunjukkan perbaikan. Purbaya menyebut penguatan nilai tukar rupiah, rebound IHSG, penurunan imbal hasil obligasi, serta masuknya kembali aliran modal asing sebagai sinyal positif bagi perekonomian.
“Hal ini mengindikasikan market confidence meningkat dengan peluang perdamaian AS dan Iran yang terbuka, diharapkan akan semakin meningkatkan stabilitas nilai tukar, cost of fund semakin kompetitif, investasi semakin menguat dan pada akhirnya momentum pertumbuhan dapat terus diperkuat,” tutur Purbaya.
Ia menambahkan, “Saya harap ke depan dengan adanya prospek membaiknya kondisi di perang Iran-Israel dan harga minyak yang mulai rendah, harusnya kita akan lebih baik di paruh kedua tahun ini. Mudah-mudahan hal ini terjadi terus.”