Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Foto oleh Sayed Hassan/Getty Images TODAYNEWS.ID – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, mengecam Prancis dan sejumlah negara Barat yang dinilainya bersikap munafik dalam isu hak asasi manusia (HAM) dan hukum internasional.
Kecaman itu disampaikan Araghchi melalui unggahan di X pada Kamis (13/8/2026), menyusul pernyataan Kementerian Luar Negeri Prancis yang menyebut 32 negara, termasuk Prancis, Inggris, dan Kanada, serta kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, mengecam penggunaan hukuman mati terhadap para perusuh di Iran yang disebut memiliki keterkaitan dengan pihak asing.
Araghchi menilai negara-negara tersebut tidak memiliki legitimasi moral untuk menggurui Iran mengenai HAM dan hukum internasional.
“Negara-negara seperti Prancis seharusnya berhenti menggurui dunia tentang ‘hak asasi manusia’ dan hukum internasional. Kemunafikan ini sangat kentara dan memalukan,” tegas Araghchi.
Dia juga menyoroti dukungan negara-negara Barat terhadap Israel dalam konflik di Gaza serta agresi Amerika Serikat terhadap Iran.
“Dukungan Anda terhadap genosida Israel di Gaza—dan agresi terhadap Iran—telah menghancurkan landasan moral luhur apa pun yang Anda bayangkan Anda miliki,” sambungnya.
Pernyataan tersebut menjadi respons keras Iran terhadap kritik negara-negara Barat atas kebijakan Teheran dalam menangani kerusuhan dan penerapan hukuman mati.
Seperti diketahui, konflik Israel-Palestina kembali memanas sejak 7 Oktober 2023 setelah Hamas melancarkan operasi terhadap Israel untuk merebut kembali wilayah yang diduduki sekaligus sebagai pembalasan atas peningkatan kekejaman terhadap rakyat Palestina.
Sejak itu, Israel terus melancarkan serangan ke Jalur Gaza yang menurut sumber Palestina telah menewaskan sedikitnya 73.388 orang dan melukai 174.259 lainnya, mayoritas perempuan dan anak-anak.
Di sisi lain, Israel dan Amerika Serikat juga terlibat dalam dua perang dengan Iran, masing-masing pada Juni 2025 dan sejak 28 Februari hingga awal April. Iran menyatakan perlawanan dan serangan balasan mereka memaksa kedua konflik berakhir dengan gencatan senjata.
Sementara itu, laporan kantor berita Iran Press TV menyebut bahwa kerusuhan yang bermula dari demonstrasi ekonomi di Teheran pada Januari lalu berkembang menjadi aksi kekerasan di sejumlah kota-kota Iran.
Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan tersebut, termasuk melalui pelatihan terhadap kelompok bersenjata, dengan tujuan mendorong perubahan rezim.