Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa. (Foto: Bapanas) TODAYNEWS.ID – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan bahwa pemerintah terus bergerak aktif dalam mencari pasokan bahan baku plastik guna menekan dampak kenaikan biaya terhadap harga beras dan gula di pasar domestik.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu, menegaskan bahwa berbagai langkah telah dijalankan untuk mengatasi keterbatasan pasokan bahan baku plastik yang kini memengaruhi sektor pangan.
“Pemerintah tidak diam, tidak menunggu, tapi sedang mencari upaya-upaya tersebut. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, relatif problem kekurangan pasokan bahan baku plastik ini bisa diselesaikan dengan baik,” kata Ketut.
Ia menambahkan bahwa pemerintah terus berupaya mencari berbagai solusi. Harapannya, dalam waktu dekat persoalan kekurangan bahan baku plastik dapat diselesaikan secara optimal sehingga tidak mengganggu stabilitas harga pangan.
Ketut juga menjelaskan bahwa koordinasi penanganan masalah ini dipercayakan kepada Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian guna mempercepat pencarian sumber pasokan alternatif.
“Kita percayakan dulu kepada teman-teman di Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian juga,” ujar Ketut.
Selain pemerintah, para pelaku usaha di sektor plastik juga ikut bergerak mencari solusi. Mereka mulai melirik peluang pasokan dari negara produsen minyak bumi di luar kawasan Timur Tengah.
“Semua bergerak, pelaku usaha kan tidak diam, dia akan mencari dan sudah akan berusaha mencari peluang-peluang tadi. Apakah dari Rusia atau negara lain selain Timur Tengah. Produsen-produsen minyak itu, itulah penghasil sumber-sumber pasokan plastik sebenarnya,” beber Ketut.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan baku plastik berdampak langsung terhadap biaya produksi pelaku usaha pangan, terutama untuk komoditas beras dan gula.
Menurutnya, Bapanas telah melakukan sejumlah rapat bersama para pemangku kepentingan, termasuk pelaku usaha beras, gula, dan pangan kemasan. Pembahasan difokuskan pada dampak gejolak geopolitik di Timur Tengah terhadap pasokan plastik global.
Berdasarkan perhitungan sementara, dampak kenaikan biaya terhadap harga beras diperkirakan mencapai sekitar Rp300 per kilogram. Sementara itu, pada gula dampaknya lebih kecil, yakni sekitar Rp100 hingga Rp150 per kilogram, meski angka tersebut masih bersifat estimasi awal.
“Memang kita sudah menghitung secara kasar. Di beras itu hampir sekitar Rp300 per kilogram dampaknya. Tapi di gula relatif lebih sedikit, sekitar Rp 100 sampai Rp150. Itu pun masih kasar, belum kami hitung detail. Mungkin bisa lebih rendah dari itu,” jelasnya.
Dalam pemantauan Bapanas, pergerakan harga gula konsumsi nasional selama sebulan terakhir mengalami penyesuaian, baik di wilayah barat maupun timur Indonesia. Namun demikian, kenaikan tersebut masih tergolong wajar, yakni sekitar 1,94 persen.
Rata-rata harga gula konsumsi tercatat naik tipis dari Rp18.412 per kilogram menjadi Rp18.770 per kilogram per 20 April.
Meski demikian, proyeksi produksi gula kristal putih dalam negeri pada periode April hingga Mei diperkirakan meningkat signifikan, dari sekitar 58,3 ribu ton menjadi 276,4 ribu ton. Peningkatan ini diharapkan mampu meredam tekanan harga di pasar.
Sementara itu, harga beras relatif stabil. Dalam sebulan terakhir, harga beras medium hanya mengalami fluktuasi sekitar 0,29 persen, sedangkan beras premium sebesar 0,37 persen.
Rata-rata harga beras medium nasional tercatat naik tipis dari Rp13.378 per kilogram menjadi Rp13.417 per kilogram per 20 April. Untuk beras premium, kenaikan terjadi dari Rp15.640 menjadi Rp15.698 per kilogram.