Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Bidang Politik, Mayor Jenderal Yahya Javani. Foto: Press TV TODAYNEWS.ID – Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Bidang Politik, Mayor Jenderal Yahya Javani, memperingatkan bahwa setiap eskalasi terhadap Iran akan menimbulkan konsekwensi yang sangat berat bagi Amerika Serikat (AS).
Ia memastikan, meski Washington menggunakan seluruh kekuatan militernya untuk menyerang negaranya, tetapi pada akhirnya pasukan Iran akan mengalahkan mereka.
“Dampak dari peningkatan ketegangan antara Iran dan AS akan jauh lebih parah bagi AS. AS akan memamerkan kekuatannya, tetapi pada akhirnya akan dikalahkan,” tegas Javani, seperti dilaporkan kantor berita Press Tv, Selasa (5/5/2026).
Bahkan kata Javani, militer Iran akan membuat Presiden AS Donald Trump menyesal selamanya dan berharap dirinya sebelum ini tidak pernah memerintahkan militernya untuk menyerang negeri para mullah itu.
“Trump tidak akan mampu mengubah arah dan membalikkannya ke sebelum 28 Februari,” tegas Javani.
Lebih lanjut, Komandan senior Iran itu menekankan bahwa setiap kapal yang ingin melewati Selat Hormuz harus mendapatkan izin dari Angkatan Bersenjata Iran agar tetap aman.
Ia mencatat bahwa setiap kapal yang terkait dengan pihak musuh dan berupaya melewati jalur perairan strategis tersebut akan dihadapi dengan tegas.
Menurut Javani, musuh AS-Israel tidak dapat mencapai satupun tujuan yang mereka nyatakan dalam perang agresi terbaru terhadap Iran.
Dia mengatakan bahwa Trump dan pejabat politik serta militer AS lainnya telah secara eksplisit menyatakan bahwa tujuan mereka melancarkan perang melawan Iran adalah untuk menghancurkan fasilitas nuklirnya, dan kemampuan rudalnya.
Selain itu, mereka juga ingin memusnahkan Poros Perlawanan dan semua kekuatan yang berafiliasi dengan Iran, menggulingkan rezim Islam, menghancurkan negara itu, dan menegakkan dominasi penuh atas seluruh wilayah Asia Barat.
Namun, komandan IRGC itu menambahkan bahwa tidak satu pun dari tujuan tersebut akan tercapai.
Ia menyatakan bahwa tantangan besar Trump saat ini adalah membuka Selat Hormuz yang dikuasai Iran, karena ia telah mengeksplorasi semua jalan yang tersedia selama serangan anti-Iran selama 40 hari terhadap Iran, tetapi tanpa hasil.
Javani mencatat bahwa presiden AS bahkan mendesak sekutu-sekutu Eropanya dan negara-negara lain untuk membantu membuka selat tersebut.
Trump kini berupaya mewujudkan mimpinya melalui kampanye tekanan terhadap Teheran, tetapi AS, sebagai negara adidaya, sedang menghadapi negara adidaya lain, kata komandan tersebut.