Laporan: Afrizal Ilmi
Seorang pialang saham mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari layar telepon pintarnya di Jatinegara, Jakarta, Kamis (1/10/2026). Foto: ANTARA TODAYNEWS.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 11,57 persen ke level 5.185,11 setelah pengumuman MSCI mengenai konsultasi perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia memicu tekanan jual.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Ardy Irianto Subekti, menilai sentimen tersebut memperbesar tekanan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya risiko geopolitik.
Penurunan IHSG pada Jumat pekan lalu menjadi yang terdalam sejak krisis 8 Januari 1998, ketika indeks terkoreksi 11,95 persen dalam sehari. Pada perdagangan tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt selama 30 menit setelah IHSG dibuka melemah 8,01 persen ke level 5.393,92.
Tekanan jual berlanjut hingga penutupan sesi pertama dengan IHSG turun 10,76 persen ke level 5.233. Pada sesi kedua, indeks kembali melemah hingga berakhir di posisi 5.185,11.
Seluruh sektor saham mengalami koreksi pada perdagangan tersebut. Sektor barang baku memimpin pelemahan sebesar 13,37 persen, disusul kesehatan 13,16 persen dan infrastruktur 13 persen.
Tekanan juga menjalar ke saham-saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45. Indeks tersebut turun 13,82 persen ke level 508,56, sementara 812 saham melemah dan hanya 11 saham menguat dengan nilai transaksi sekitar Rp32 triliun.
Ardy mencatat investor asing membukukan penjualan bersih atau net sell sebesar Rp2,92 triliun pada sesi pertama perdagangan Jumat. Saham BBCA mencatat penjualan bersih asing Rp1,98 triliun, disusul BBRI sebesar Rp631 miliar dan BMRI sebesar Rp485 miliar.
“Total net sell asing dalam sepekan mencapai Rp 3,34 triliun dan YTD Rp 88,19 triliun,” ujar Ardy dalam keterangan tertulis yang diterima Senin (19/10/2026).
Menurut Ardy, tekanan terhadap pasar saham Indonesia tidak hanya berasal dari sentimen domestik. Kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat (AS) dan eskalasi konflik di Timur Tengah turut membebani pergerakan pasar global.
Data inflasi AS menjadi perhatian investor karena memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS pada September tercatat 3,7 persen secara tahunan, melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,6 persen.
Tekanan harga juga terlihat pada tingkat produsen melalui indikator Producer Price Index (PPI). Indikator tersebut meningkat 1,3 persen secara bulanan dan 6,3 persen secara tahunan, sehingga memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan biaya produksi dapat menjaga inflasi tetap tinggi.
Kondisi tersebut memperbesar ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Ardy juga menyoroti kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan apabila tekanan inflasi belum terkendali.
Di pasar saham AS, indeks S&P 500 turun 1,11 persen ke level 7.718,94 dan Nasdaq melemah 1,88 persen ke level 26.692,87 pada Rabu. Tekanan terutama datang dari saham teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Pasar saham AS kemudian mencatat pemulihan terbatas pada Kamis. S&P 500 naik 0,33 persen ke level 7.744,06, Nasdaq menguat 0,08 persen ke level 26.713,03, sedangkan Dow Jones naik 1,08 persen ke level 52.177,69 seiring rotasi investor ke saham defensif.
Risiko geopolitik turut menambah ketidakpastian di pasar keuangan global. Harga minyak Brent menyentuh USD110 per barel pada Jumat setelah Iran meningkatkan serangan di sekitar Selat Hormuz.
Arus minyak yang melewati Selat Hormuz turun menjadi 11,6 juta barel per hari, atau sekitar 68 persen dari tingkat sebelum perang sebesar 17,1 juta barel per hari. Sedikitnya 12 serangan terhadap kapal tercatat dalam sepekan hingga 16 Oktober.
Iran juga dilaporkan menargetkan pangkalan militer AS, pusat energi, dan pelabuhan utama di kawasan Jazirah Arab. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Turki, dan Yordania menghadapi potensi serangan baru, sementara kelompok Houthi turut menyerang infrastruktur di Arab Saudi.
“Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi yang menjadi sentimen positif untuk emiten energi, namun berisiko menambah tekanan inflasi dan depresiasi Rupiah,” ujar Ardy.
Di dalam negeri, perhatian investor tertuju pada langkah MSCI yang membuka konsultasi perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. MSCI menilai klasifikasi Indonesia saat ini tidak lagi tepat, sedangkan kategori Frontier Market dinilai belum mencerminkan persoalan yang menjadi perhatian lembaga tersebut.
Ardy menjelaskan, persoalan yang disoroti MSCI mencakup transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta konsistensi pelaksanaan reformasi pasar modal. Proses konsultasi masih berlangsung dengan batas penerimaan masukan hingga 30 April 2027 dan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027.
Pengumuman tersebut muncul lebih awal dibandingkan perkiraan sebelumnya pada November. Perubahan jadwal ini turut membuat pelaku pasar harus segera memperhitungkan potensi dampak perubahan klasifikasi terhadap aliran investasi.
“Potensi outflow mencapai Rp105-132 triliun (US$5,8-7,3 miliar) jika reklasifikasi terjadi dengan BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ASII paling rentan terdampak,” ujar Ardy.
Potensi arus dana keluar tersebut menjadi salah satu risiko yang diperhatikan investor apabila perubahan klasifikasi benar-benar diterapkan. Sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, dan ASII, disebut Ardy sebagai saham yang paling rentan terkena dampaknya.
Di tengah tekanan pasar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menjatuhkan denda dengan total Rp2,1 triliun kepada pihak-pihak terkait perdagangan saham DSSA, BREN, dan CUAN. Rinciannya meliputi Rp1,5 triliun terkait DSSA, Rp500 miliar terkait BREN, dan Rp100 miliar terkait CUAN.
Sejak Januari 2026, OJK juga telah menindak 835 pihak dengan nilai sanksi lebih dari Rp390 miliar. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya penegakan aturan dan pembenahan pasar modal yang berlangsung di tengah sorotan terhadap transparansi perdagangan saham.
BEI akan meminta klarifikasi kepada MSCI terkait persoalan klasifikasi pasar saham Indonesia. Sementara itu, Danantara menyatakan kesiapan untuk melakukan akumulasi saham yang memiliki fundamental kuat.
Perkembangan konsultasi MSCI, arah kebijakan suku bunga AS, serta situasi geopolitik akan menjadi faktor yang terus dicermati pelaku pasar. Ketiga faktor tersebut menjadi bagian dari rangkaian sentimen yang memengaruhi pergerakan IHSG dan keputusan investasi di pasar saham domestik.
Editor: Aziz Arriadh