Laporan: Afrizal Ilmi
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Senin (19/10/2026). TODAYNEWS.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Senin (19/10/2026), dengan mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak di zona merah. Hingga pukul 09.38 WIB, IHSG turun 5,27 persen ke level 4.912,05 setelah tekanan jual berlanjut dari perdagangan akhir pekan lalu.
Berdasarkan data BEI, IHSG terkoreksi 273,06 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level 5.185,11. Pada awal perdagangan, indeks dibuka di posisi 4.961,88 sebelum sempat naik ke 4.974,66 dan kemudian merosot hingga menyentuh 4.907,37.
Pelemahan indeks mencerminkan dominasi tekanan jual di pasar saham domestik. Data perdagangan menunjukkan 774 saham melemah, sedangkan hanya 33 saham menguat dan 156 saham bergerak stagnan.
Di tengah koreksi tersebut, kapitalisasi pasar saham Indonesia tercatat sebesar Rp8.705 triliun. Aktivitas perdagangan hingga pukul 09.38 WIB mencapai volume 11,67 miliar saham dengan nilai transaksi Rp6,506 triliun dan frekuensi 463.400 kali.
Tekanan jual juga menjalar ke berbagai indeks saham di luar IHSG. Indeks LQ45 turun 5,85 persen ke level 478,82, sedangkan Kompas100 terkoreksi 5,84 persen ke posisi 619,48.
Pelemahan turut terjadi pada indeks saham syariah dan indeks saham berkapitalisasi besar. Jakarta Islamic Index (JII) turun 5,66 persen ke level 284,40, sementara Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) melemah 5,22 persen ke posisi 170,05.
Indeks IDX30 juga terkoreksi 5,79 persen ke level 267,24 pada perdagangan pagi tersebut. Sementara itu, JII70 turun 5,60 persen ke posisi 111,64 seiring meluasnya tekanan di pasar saham.
Sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar atau blue chip turut membebani pergerakan IHSG. Saham BBCA, BBRI, BYAN, dan TLKM termasuk dalam kelompok saham yang menjadi pemberat indeks pada perdagangan Senin.
Pelemahan terbaru ini terjadi setelah IHSG mengalami koreksi tajam pada Jumat (16/10/2026). Saat itu, indeks anjlok sekitar 11,6 persen dan mencatat penurunan harian terdalam sejak krisis pasar saham pada Januari 1998.
Gejolak pasar tersebut berkaitan dengan pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai rencana peninjauan klasifikasi pasar saham Indonesia. MSCI sedang mempertimbangkan perubahan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Perubahan klasifikasi tersebut berpotensi memengaruhi arus investasi asing ke pasar saham Indonesia. Investor yang menggunakan indeks pasar berkembang sebagai acuan dapat menyesuaikan portofolionya apabila perubahan status tersebut benar-benar diterapkan.
Indonesia selama ini masuk dalam kelompok pasar berkembang dan menjadi bagian dari peta investasi global. Jika reklasifikasi terjadi, Indonesia akan masuk kategori Standalone Market, bersama negara-negara lain seperti Lebanon dan Zimbabwe.
Kekhawatiran terhadap perubahan status tersebut menambah tekanan yang dihadapi pasar saham domestik. Koreksi lanjutan pada Senin juga memperburuk kinerja IHSG sepanjang tahun berjalan, setelah indeks lebih dahulu mengalami penurunan tajam pada akhir pekan lalu.
Perkembangan konsultasi MSCI menjadi salah satu faktor yang akan dicermati pelaku pasar dalam waktu mendatang. Sementara itu, pergerakan IHSG dan saham-saham berkapitalisasi besar masih menunjukkan kuatnya tekanan jual pada awal perdagangan Senin.
Editor: Aziz Arriadh