Laporan: Dhanis
Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi). Foto: Dok. Pribadi TODAYNEWS.ID – Pengamat politik Citra Institute, Efriza, menilai pernyataan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) baru-baru ini mengenai pentingnya mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan partai politik dapat menjadi pengingat bagi mantan Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi).
Menurut Efriza, pesan SBY mengenai kriteria negarawan bukan sekadar persoalan apakah seorang tokoh masih memiliki pengaruh politik, melainkan bagaimana pengaruh tersebut digunakan untuk kepentingan bangsa dan negara.
“Mantan presiden tetap memiliki hak politik, tetapi pengalaman dan kewibawaannya diharapkan menjadi kekuatan pemersatu, bukan memperpanjang persaingan politik. Jika ini ditempatkan ke salah satu mantan presiden, tentu sindiran menohok ke Jokowi,” kata Efriza kepada TODAYNEWS, Sabtu (17/10/2026).
Ia menjelaskan, mantan presiden tetap memiliki hak untuk terlibat dalam aktivitas politik. Namun, pengalaman memimpin negara semestinya menjadi modal untuk menjaga persatuan dan mengutamakan kepentingan publik di atas kepentingan kelompok.
Efriza menegaskan, aktivitas politik yang sah merupakan bagian dari demokrasi selama dijalankan sesuai ideologi, mekanisme pemilu, konstitusi, dan aturan hukum yang berlaku.
Persoalan muncul ketika kepentingan kelompok justru mengalahkan kepentingan masyarakat. Hal itu, menurut dia, dapat terlihat dari penyalahgunaan kekuasaan, konflik kepentingan, kebijakan diskriminatif, hingga perilaku koruptif.
“Oleh karena itu, ukurannya bukan apakah seorang tokoh aktif berpolitik ataupun kemudian memilih pensiun, melainkan apakah tindakannya transparan, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam sistem demokrasi, partai politik maupun tokoh politik memang memiliki hak memperjuangkan kepentingan kelompoknya. Namun, kepentingan tersebut tidak boleh mengorbankan kepentingan negara, hak rakyat, ataupun melampaui ketentuan hukum.
Bagi Efriza, pernyataan SBY mengandung pesan bahwa jabatan dan pengaruh politik semestinya menjadi sarana pengabdian, bukan tujuan akhir yang digunakan untuk memperkaya diri atau mengutamakan kepentingan kelompok.
Karena itu, ia menilai kualitas seorang negarawan seharusnya dilihat dari kemampuannya menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan politik jangka pendek.
“Pernyataan SBY mengingatkan bahwa jabatan dan pengaruh politik seharusnya menjadi sarana pengabdian, bukan tujuan akhir, apalagi untuk memperkaya diri dan kepentingan kelompoknya,” pungkasnya.
Editor: Azis Arriadh