x

Guru Besar UB Apresiasi Sudaryono Prioritaskan MBG di Wilayah 3T

Laporan: Dhanis

3 minutes reading
Monday, 19 Oct 2026 11:04 24

TODAYNEWS.ID – Guru Besar Ilmu Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Andy Fefta Wijaya, mengapresiasi kebijakan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono yang memprioritaskan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Menurut Andy, kebijakan tersebut menjadi langkah penting untuk memperluas pemerataan akses pemenuhan gizi bagi anak-anak Indonesia, terutama di daerah yang masih menghadapi keterbatasan akses dan tantangan geografis.

“Ini merupakan langkah konkret untuk memastikan bahwa anak-anak di daerah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses juga memperoleh kesempatan yang sama dalam pemenuhan gizi. Pemerataan seperti inilah yang penting dalam sebuah kebijakan publik,” kata Andy, Senin (19/10/2026).

Ia menilai, program MBG perlu ditempatkan sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia. Pemenuhan gizi sejak usia dini dinilai berperan dalam mendukung tumbuh kembang anak, meningkatkan kualitas kesehatan, serta membantu upaya penanganan stunting.

Andy mengingatkan, keberhasilan program MBG tidak cukup diukur dari jumlah penerima manfaat. Pemerintah juga harus memastikan makanan bergizi benar-benar menjangkau anak-anak yang membutuhkan, termasuk mereka yang tinggal di wilayah 3T.

“Program MBG tidak cukup hanya mengejar jumlah penerima manfaat. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa anak-anak yang membutuhkan benar-benar mendapatkan makanan bergizi, termasuk mereka yang tinggal di wilayah 3T. Karena itu, keberanian memprioritaskan daerah yang membutuhkan patut diapresiasi,” ujarnya.

Pengawasan Dapur MBG Perlu Diperkuat

Selain pemerataan akses, Andy menyoroti pentingnya pembenahan tata kelola pelaksanaan program MBG. Menurut dia, integritas pengelola, kepatuhan terhadap standar keamanan pangan, dan pengawasan terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas program.

Ia juga mengapresiasi langkah Sudaryono dalam menindak dapur MBG yang bermasalah, termasuk menghentikan operasional dapur yang tidak memenuhi ketentuan.

Andy menilai, tindakan tegas diperlukan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai standar dan tidak disalahgunakan oleh pihak yang hanya berorientasi pada kepentingan tertentu.

“Saya juga mengapresiasi ketegasan Sudaryono dalam membenahi dapur-dapur MBG yang bermasalah. Dapur yang tidak memenuhi standar, tidak menjalankan tanggung jawab dengan baik, atau tidak amanah harus dievaluasi dan ditindak tegas sesuai ketentuan. Program ini menyangkut kebutuhan gizi anak-anak, sehingga integritas pengelola dan keamanan makanan tidak boleh ditawar,” katanya.

Andy menambahkan, perluasan program ke wilayah 3T harus disertai pengawasan dan evaluasi secara berkala. Pemerintah perlu memastikan setiap dapur memenuhi persyaratan operasional, distribusi makanan berjalan lancar, dan kualitas makanan tetap terjaga.

Tantangan geografis di wilayah 3T, menurut dia, juga perlu menjadi pertimbangan dalam penyusunan mekanisme distribusi dan pengawasan agar makanan dapat diterima penerima manfaat dalam kondisi yang layak.

“Kebijakan yang baik harus diikuti pelaksanaan yang baik pula. Prioritas wilayah 3T merupakan langkah penting, tetapi konsistensi pengawasan, kualitas makanan, dan ketepatan sasaran juga harus dijaga. Dengan begitu, MBG tidak hanya menjadi program yang luas cakupannya, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah terus memperkuat evaluasi, koordinasi dengan pemerintah daerah, serta pengawasan terhadap seluruh pelaksana program.

Dengan pemerataan akses dan tata kelola yang baik, MBG diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi anak-anak, tetapi juga mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam jangka panjang.

Editor: Azis Arriadh

LAINNYA