x

Abad Kedua NU, Gus Choi Tegaskan Muktamar ke-35 Harus Jadi Momentum Kebangkitan Ekonomi Umat

waktu baca 2 menit
Senin, 6 Jul 2026 18:00 24 Dhanis Iswara

TODAYNEWS.ID – Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), Effendy Choirie yang akrab disapa Gus Choi, menegaskan bahwa Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) harus menjadi momentum transformasi besar.

Memasuki abad keduanya, organisasi Islam terbesar di Indonesia ini didorong untuk mengalihkan fokus dari politik identitas menuju gerakan nyata kesejahteraan sosial.

Menurut Gus Choi, tantangan NU di abad kedua ini jauh lebih kompleks, mulai dari kemiskinan, pengangguran, rendahnya kualitas SDM, hingga disrupsi teknologi dan persaingan global.

“Memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama, saatnya bergerak dari kebangkitan organisasi menuju kebangkitan kesejahteraan umat. Agama terjaga, negara kuat, ekonomi tumbuh, dan rakyat sejahtera,” ujar Gus Choi dalam keterangan tertulisnya, Senin (6/7/2026).

Gus Choi mengingatkan bahwa sejak awal kelahirannya pada tahun 1926, NU merupakan hasil kolaborasi erat antara ulama, saudagar, dan rakyat. Jauh sebelum NU berdiri, para kiai telah menginisiasi beberapa gerakan penting.

Diantaranya, Nahdlatut Tujjar, yakni, Kebangkitan ekonomi umat yang dipelopori oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah. Taswirul Afkar, yaituPusat pengembangan pemikiran dan Nahdlatul Wathan yang merupakan Gerakan pendidikan dan kebangsaan.

Rangkaian sejarah ini membuktikan bahwa para pendiri NU tidak hanya berfokus pada urusan ibadah dan fiqih, tetapi juga sangat memikirkan kemandirian ekonomi bangsa.

“Jika pada abad pertama NU berhasil membangun jaringan pesantren yang luas, maka pada abad kedua NU harus mampu membangun jaringan ekonomi umat yang kuat,” tambahnya.

Lebih lanjut, Indonesia sebagai bangsa dan negara dikaruniai kekayaan alam yang melimpah, sehingga kemiskinan yang masih dialami sebagian rakyat harus menjadi keprihatinan bersama.

Gus Choi menilai, kekuatan jamaah NU yang sangat besar harus dikonversi menjadi kekuatan ekonomi riil lewat beberapa langkah strategis.

Pertama, filantropi modern, yakni memaksimalkan pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf produktif secara profesional.

Kedua, penguatan sektor riil atau memperkuat koperasi, UMKM, sektor pertanian, peternakan, perikanan, hingga industri kreatif berbasis digital.

Lalu, ketiga, mencetak agen perubahan, dengan mendorong lahirnya lebih banyak pengusaha besar, profesional unggul, ilmuwan, dan inovator dari kalangan Nahdliyin.

Menyambut Muktamar ke-35, Gus Choi mengajak seluruh elemen NU, mulai dari ulama, umara (pemerintah), aghniya (orang kaya), pesantren, akademisi, hingga kaum santri—untuk bersatu padu.

Menurutnya, NU yang besar tidak boleh hanya sekadar menang di jumlah pengikut, tetapi harus mampu menghadirkan taraf hidup yang lebih baik bagi seluruh umat dan negara.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

7 hours ago
11 hours ago
4 days ago
4 days ago
5 days ago
7 days ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor