x

Pertamina Tahan Harga Pertamax Rp15.950, Ekonom Soroti Risiko Arus Kas

Laporan: Azis Arriadh

waktu baca 3 menit
Senin, 2 Nov 2026 09:59 41

TODAYNEWS.ID – PT Pertamina (Persero) diperkirakan menghadapi selisih penerimaan bruto Rp1,3–Rp2,3 triliun per bulan setelah mempertahankan harga Pertamax di level Rp15.950 per liter pada awal November 2026. Estimasi tersebut muncul dari perhitungan selisih harga jual dengan harga keekonomian bensin RON 92.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan harga keekonomian Pertamax pada November 2026 berada di kisaran Rp18.500–Rp20.500 per liter. Dengan harga jual saat ini, terdapat selisih sekitar Rp2.550–Rp4.550 untuk setiap liter yang terjual.

Perhitungan itu menggunakan asumsi penjualan Pertamax sebanyak 500 juta liter per bulan. Dari volume tersebut, selisih penerimaan yang berpotensi ditanggung Pertamina diperkirakan mencapai Rp1,3–Rp2,3 triliun dalam sebulan.

Meski demikian, Josua menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan estimasi penerimaan yang berpotensi tidak terealisasi dibandingkan jika perusahaan menerapkan harga keekonomian. Besarannya tidak bisa langsung disamakan dengan kerugian bersih Pertamina.

Bukan Kerugian

Untuk menilai dampaknya terhadap keuangan perusahaan, perhitungan perlu memperhatikan biaya produksi kilang domestik, kontrak pembelian minyak, dan persediaan yang diperoleh saat harga masih berbeda. Efisiensi distribusi, pajak, serta margin juga menjadi komponen yang harus diperhitungkan.

Josua mengingatkan bahwa mempertahankan harga Pertamax dalam jangka panjang berisiko menekan arus kas perusahaan, terutama jika harga minyak mentah bertahan tinggi. Kondisi itu dapat semakin membatasi kemampuan Pertamina menyerap selisih harga.

Menurut dia, harga yang tetap memang membantu menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi dalam jangka pendek. Namun, biaya ekonomi akibat kenaikan harga minyak tetap ada, dengan sebagian bebannya beralih kepada perusahaan energi.

“Potensi selisih penerimaan bruto mencapai sekitar Rp1,3—Rp2,3 triliun dalam satu bulan. Namun, angka tersebut bukan berarti Pertamina secara otomatis mencatatkan kerugian bersih sebesar itu,” kata Josua, Senin (2/11/2026).

“Menurut kami, mempertahankan harga Pertamax memang dapat membantu mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli dalam jangka pendek, tetapi kebijakan tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan biaya ekonomi akibat kenaikan harga minyak, melainkan mengalihkan sebagian bebannya kepada perusahaan energi,” ungkap Josua.

Sementara itu, seluruh harga BBM Pertamina per 2 November 2026 masih mengikuti ketetapan sejak awal September 2026. Untuk BBM bersubsidi, Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

Pada kelompok BBM nonsubsidi, Pertamax dibanderol Rp15.950 per liter, Pertamax Turbo Rp19.600 per liter, dan Pertamax Green 95 Rp19.150 per liter. Adapun Dexlite dijual Rp23.700 per liter, sedangkan Pertamina Dex Rp25.200 per liter.

Harga tersebut berlaku di wilayah yang menerapkan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) sebesar 5%, termasuk DKI Jakarta.

Penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan secara berkala setiap tanggal 1 dengan mengacu pada Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No.245.K/MG.01/MEM.M/2022 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis BBM Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.

Editor: Azis Arriadh

LAINNYA