x

Pembudidaya Lele Asal Madura Temukan Formula Pangkas Usia Panen Lele Hanya 45 Hari

Laporan: Azis Arriadh

waktu baca 4 menit
Senin, 2 Nov 2026 11:05 32

TODAYNEWS.ID – Berawal dari hobi memelihara dan mengonsumsi ikan lele, Muzammil Andriansyah atau yang akrab disapa Haji Aan kini mengembangkan budidaya lele dengan masa panen mulai 45 hari.

Melalui Raja Lele Indonesia, ia berharap inovasi tersebut bisa membantu peternak meningkatkan efisiensi produksi dan menekan biaya usaha.

Bersama rekan-rekannya, Haji Aan mengembangkan formula khusus pakan yang diklaim mampu mempercepat masa panen lele.

Inovasi ini tidak hanya diarahkan untuk mengembangkan bisnis, tetapi juga diharapkan memberikan manfaat bagi pembudidaya lain dan mendukung ketahanan pangan nasional.

“Tujuan utama kami pun sebetulnya untuk mendukung program ketahanan pangan pemerintah,” katanya, Minggu, 1 November 2026.

Menurut Haji Aan, budidaya lele konvensional umumnya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan untuk panen.

Lain cerita dengan Raja Lele Indonesia yang telah membuktikan bahwa mereka dapat melakukan panen pertama saat ikan berusia 45 hari.

Kemudian dilanjutkan panen berikutnya pada usia 50 hari, dan menyelesaikan panen seluruh ikan dalam satu kolam paling lambat pada usia 60 hari.

“Sebetulnya keunggulan utama dari kami itu kami menemukan inovasi suatu formula yang bisa membantu untuk percepatan usia panen lele jadi 45 hari. Itulah yang kami kembangkan,” ujarnya.

Selain mempercepat panen, formula tersebut diklaim dapat menghemat biaya pakan hingga 50 persen dibandingkan budidaya dengan masa pemeliharaan konvensional sekitar tiga bulan.

“Dari segi pakan, antara tiga bulan dan 45 hari, kami sudah menang 50 persen dengan tambahan formula yang kami formulasikan ke pakan tersebut,” ungkapnya.

Penghematan biaya menjadi salah satu hal yang diharapkan dapat membantu peternak menjalankan usaha secara lebih efisien.

Bagi Haji Aan, pengembangan budidaya lele tidak berhenti pada pencapaian masa panen yang lebih singkat.

Pengusaha muda asal Madura itu berharap metode yang dikembangkan bersama rekan-rekannya dapat diterapkan oleh peternak lain sehingga manfaatnya semakin luas.

“Harapan kami ke depan, kami bisa membantu peternak-peternak yang lain, peternak-peternak lele yang lain,” katanya.

Sementara itu, Anton Sujarwo, mengaku tak ragu untuk menjadi konsumen Raja Lele Indonesia.

Sebelumnya ia telah berkecimpung dalam usaha lele selama 12 tahun dan menjadi konsumen di pembudidayaan konvensional.

Anton mengaku baru menemukan metode budidaya lele yang mampu mencapai masa panen 45 hari di tempat tersebut. Ia menilai kualitas ikan yang dihasilkan tidak kalah dibandingkan lele dari pembudidaya lainnya.

“Saya terjun di dunia lele itu sudah selama 12 tahun ini. Nah, saya baru menemukan lele dalam usia 45 hari bisa panen cuma ada di sini. Itu untuk kualitasnya juga enggak kalah sama pembudidaya-pembudidaya yang lain,” kata Anton.

Ia juga menilai kemampuan budidaya dengan kepadatan tinggi menjadi keunggulan tersendiri. “Di Jawa Timur setahu saya itu yang bisa budidaya lele dengan kepadatan tinggi cuma ada di sini,” ujarnya.

Dari sisi pasar, Anton mengatakan konsumennya cenderung menyukai lele hasil budidaya tersebut karena dagingnya dinilai lebih tebal dan padat.

“Nah, untuk konsumen itu lebih suka yang ini, karena dagingnya lebih tebal. Untuk kapasitas dagingnya itu lebih tebal, lebih padat daripada pembudidaya yang biasa-biasa aja,” tuturnya.

Target Bangun Sentra Budidaya di Setiap Provinsi
Untuk mendukung pemeliharaan ikan, Raja Lele Indonesia menerapkan sistem sirkulasi air selama 24 jam.

Haji Aan mengatakan sistem tersebut dijalankan untuk menjaga kebersihan kolam dan menunjang kebutuhan ikan.

“Air 24 jam kami nonstop selalu ganti dengan sirkulasi karena kebutuhan lele, mineral diambil dari mineral air tersebut. Jadi kolam kami tetap selalu bersih dan higienis,” jelasnya.

Ia menyebut kolam berukuran 6 x 10 meter yang digunakan saat ini dapat menampung sekitar 150.000 hingga 200.000 ekor lele.

Kepadatan tersebut membutuhkan pengelolaan kualitas air dan pemantauan kesehatan ikan secara konsisten.

Ke depan, Haji Aan berharap pemerintah memberikan dukungan agar inovasi budidaya yang dikembangkan Raja Lele Indonesia dapat diterapkan di berbagai wilayah Indonesia.

Ia menargetkan pembangunan satu titik budidaya di setiap provinsi. Selain memperluas jangkauan produksi, langkah tersebut diharapkan dapat mendekatkan lokasi budidaya dengan pasar sehingga biaya transportasi bisa ditekan.

“Dan saya berharap tiap provinsi saya ingin membangun satu titik di seluruh (wilayah -red) Indonesia untuk menekan biaya transportasi. Itu harapan kita ke depan,” ujarnya.

Melalui inovasi panen 45 hari, Haji Aan berharap usaha yang berawal dari hobi tersebut dapat memberikan manfaat lebih luas bagi sektor perikanan.

Ia ingin efisiensi produksi tidak hanya menjadi keunggulan Raja Lele Indonesia, tetapi juga membuka peluang bagi peternak lain untuk mengembangkan usaha dan ikut memperkuat ketahanan pangan nasional.

Editor: Azis Arriadh

LAINNYA