Presiden Republik Islam Iran, Masoud Pezeshkian (kiri) saat berbicara dalam sidang Dewan Kehakiman Tertinggi Iran. Foto: IRNA TODAYNEWS.ID – Presiden Republik Islam Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa negaranya saat ini sedang berada dalam “perang skala penuh” dengan Amerika Serikat (AS).
Menurutnya, medan pertempuran terpenting dalam konflik ini bergeser ke sektor ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Melansir laporan kantor berita IRNA, pada Selasa (21/7/2026), Pezeshkian menjelaskan dalam sidang Dewan Kehakiman Tertinggi negara itu, bahwa musuh-musuh Iran menyadari serangan militer saja tidak akan mampu memecah ketahanan negara.
Oleh karena itu, tekanan kini dialihkan untuk menyasar perekonomian dan kehidupan sehari-hari rakyat guna memicu ketidakpuasan publik serta mengikis dukungan sosial pemerintah.
Pezeshkian menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan, pengangguran, dan masalah mata pencaharian merupakan kewajiban moral sekaligus pemerintahan.
Meski mengakui adanya lonjakan harga barang, ia berdalih bahwa kondisi tersebut murni akibat tekanan eksternal, bukan kelalaian pemerintah.
Ia mengeklaim bahwa pemerintah Iran berhasil mencegah kelangkaan bahan pokok di tengah situasi perang yang bertepatan dengan perayaan Nowruz dan bulan suci Ramadan tahun 2026.
Terkait perundingan baru-baru ini, Pezeshkian memastikan bahwa Iran tidak membuat konsesi yang merugikan kepentingan nasional tanpa mengalah pada prinsip atau nilai-nilai.
Ia menyebut ketentuan dalam 14 poin nota kesepahaman dengan AS sebagian besar justru menguntungkan Republik Islam.
Menutup pidatonya, Pezeshkian mengucapkan terima kasih kepada para pejabat peradilan atas kerja mereka, dan menggambarkan penegakan hukum sebagai salah satu tanggung jawab terberat dalam sistem pemerintahan Republik Islam.