Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Azis Subekti. Foto: Dok. Partai Gerindra Oleh: Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti sekaligus Mahasiswa Program Doktor Hukum UAI
Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika kaki pertama kali menapak di Madinah. Kota itu tidak menghadirkan kemegahan seperti pusat-pusat dunia modern yang dipenuhi gedung pencakar langit, laboratorium teknologi, atau hiruk-pikuk industri global.
Gurun mengelilinginya, matahari turun dengan cahaya yang keras, angin membawa debu dan jejak sejarah yang panjang.
Namun entah mengapa, justru di kota itu manusia merasa sedang berada sangat dekat dengan sumber peradaban.
Di malam hari, ketika pelataran Masjid Nabawi mulai dipenuhi langkah manusia dari berbagai bangsa, ada kesadaran yang pelan-pelan tumbuh di dalam batin: Madinah mungkin bukan kota yang melahirkan mesin-mesin modern, tetapi di sanalah banyak teknologi peradaban manusia pertama kali menemukan bentuk moralnya.
Kota yang nyaris tak memiliki aliran sungai besar itu justru mengajarkan bagaimana manusia membangun sistem penyediaan air bersih dan distribusinya, solidaritas sosial, dan disiplin hidup bersama di tengah keterbatasan alam.
Kota yang berada di tengah padang tandus itu tidak pernah benar-benar kehilangan kehidupan. Seolah ada pelajaran sunyi bahwa peradaban besar tidak selalu lahir dari kelimpahan sumber daya, melainkan dari kemampuan manusia mengelola amanah dan menjaga keadilan.
Di banyak kota besar dunia, manusia sering merasa kecil di hadapan gedung-gedung tinggi dan sistem yang dingin. Tetapi di Madinah, manusia justru merasa kecil di hadapan dirinya sendiri.
Mungkin karena itu Madinah tidak pernah benar-benar menjadi sekadar kota, ia adalah pengalaman batin tentang bagaimana peradaban seharusnya bekerja.
Sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah, Madinah bukan wilayah yang damai. Kota itu dipenuhi pertikaian panjang antar suku, terutama Aus dan Khazraj. Dendam diwariskan turun-temurun. Kepercayaan sosial rapuh.
Kelompok-kelompok hidup dalam kecemasan dan kewaspadaan satu sama lain. Dalam bahasa modern, Madinah saat itu sesungguhnya sedang berdiri di tepi fragmentasi sosial.
Tetapi Nabi Muhammad SAW datang bukan hanya membawa ajaran spiritual. Beliau membangun sesuatu yang jauh lebih sulit: rasa percaya di antara manusia.
Dari Sanalah lahir Piagam Madinah
Banyak ilmuwan menyebutnya sebagai salah satu konstitusi tertulis paling awal dalam sejarah dunia. Namun sesungguhnya, Piagam Madinah jauh lebih besar daripada sekadar dokumen politik. Ia adalah penemuan penting tentang manusia.
Pada zaman ketika sebagian besar dunia masih dibangun di atas loyalitas darah, dominasi suku, dan balas dendam, Madinah justru memperkenalkan sesuatu yang sangat maju untuk zamannya: kontrak sosial berbasis keadilan bersama.
Nabi Muhammad SAW tidak menghapus perbedaan identitas di Madinah. Komunitas Yahudi tetap hidup dengan keyakinannya. Suku-suku tetap memiliki struktur sosialnya. Kelompok-kelompok yang berbeda tetap diakui keberadaannya. Tetapi semuanya dipertemukan dalam satu kesadaran besar: kota ini hanya dapat bertahan bila keadilan dijaga bersama-sama.
Di situlah Madinah menemukan teknologi sosialnya, bukan teknologi mesin, bukan teknologi industri, melainkan teknologi membangun kohesi manusia.
Piagam Madinah memperkenalkan prinsip-prinsip yang bahkan hari ini masih menjadi fondasi negara modern: perlindungan terhadap kelompok berbeda, tanggung jawab kolektif menjaga keamanan, penyelesaian konflik melalui hukum, penghormatan terhadap hak komunitas lain, dan pembatasan kekuasaan melalui kesepakatan bersama.
Di tengah dunia modern yang mampu menciptakan kecerdasan buatan, jaringan digital global, kendaraan tanpa pengemudi, bahkan merancang kehidupan di luar angkasa, manusia justru menghadapi ironi yang lain: krisis kesepian, polarisasi sosial, perang identitas, ketimpangan ekonomi, dan runtuhnya kepercayaan publik.
Teknologi manusia berkembang sangat cepat, tetapi kedewasaan peradabannya sering tertinggal, karena itu Madinah terasa begitu relevan hingga hari ini.
Kota itu mengingatkan bahwa stabilitas sebuah bangsa tidak pertama-tama ditentukan oleh kekuatan militernya atau besarnya pertumbuhan ekonominya. Peradaban bertahan lama ketika manusia merasa diperlakukan adil di dalam rumah besarnya sendiri.
Saya masih mengingat satu malam selepas salat Isya di Masjid Nabawi. Ribuan manusia duduk dalam diam, ada yang membaca Al-Qur’an dengan suara pelan, ada yang tertidur karena kelelahan perjalanan, ada yang menangis diam-diam di dekat tiang-tiang masjid. Tidak ada yang saling mengenal, tetapi terasa seperti berada dalam satu rumah besar kemanusiaan.
Di kota itu, jutaan manusia bergerak dalam disiplin tanpa banyak paksaan. Orang rela mengantre, rela berbagi ruang, rela berjalan pelan agar tidak menyenggol orang lain. Kota itu hidup hampir dua puluh empat jam, tetapi tidak terasa gaduh. Ada semacam kesadaran kolektif yang bekerja diam-diam.
Mungkin karena Madinah sejak awal dibangun bukan untuk memuliakan kekuasaan manusia, melainkan untuk menundukkan manusia di hadapan nilai yang lebih tinggi daripada dirinya sendiri.
Dan di situlah letak kekuatan terbesar Piagam Madinah, ia tidak dibangun di atas rasa takut, tetapi ia dibangun di atas kesediaan moral untuk berlaku adil.
Indonesia Sesungguhnya Memiliki Tantangan yang Tidak Jauh Berbeda
Negeri ini terlalu besar untuk dipersatukan dengan tekanan. Dari ratusan etnis, bahasa, budaya, dan keyakinan, yang menjaga bangsa ini tetap berdiri bukan keseragaman, melainkan kepercayaan bahwa setiap orang memiliki tempat yang adil di bawah langit kebangsaan yang sama.
Karena itu, Piagam Madinah tidak hanya penting dibaca sebagai warisan sejarah Islam. Ia penting dipahami sebagai pelajaran universal tentang bagaimana bangsa-bangsa besar dibangun.
Bahwa manusia bisa berbeda tanpa harus saling menghancurkan, bahwa kekuasaan seharusnya melindungi, bukan menakut-nakuti, bahwa hukum harus berdiri di atas semua golongan.
Dan bahwa keadilan bukan sekadar cita-cita moral, melainkan syarat utama keberlangsungan sebuah peradaban.
Mungkin Itulah Sebabnya Madinah Tetap Hidup Melampaui Zaman
Dunia modern berhasil membangun banyak mesin, tetapi belum sepenuhnya berhasil membangun ketenangan manusia.
Sedangkan Madinah, sejak berabad-abad lalu, telah mengajarkan bahwa kekuatan terbesar sebuah peradaban bukan terletak pada seberapa tinggi bangunannya, melainkan pada seberapa adil manusia diperlakukan di dalamnya.