x

Pezeshkian Kritik Standar Ganda Barat di Forum PBB: Israel Punya Nuklir, Iran Diawasi

Laporan: Akbar Budi Prasetia

waktu baca 3 menit
Kamis, 24 Sep 2026 23:00 74

TODAYNEWS.ID – Presiden Iran Masoud Pezeshkian, mengkritik apa yang disebutnya sebagai standar ganda negara-negara Barat dalam isu nuklir dan konflik di Timur Tengah saat menyampaikan pidato di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Pezeshkian menyoroti perbedaan perlakuan terhadap Iran dan Israel. Menurut dia, Israel memiliki senjata nuklir dan tidak menjadi anggota Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), sementara Iran menghadapi inspeksi serta sanksi terkait program nuklirnya.

“Bom atom dan senjata pemusnah massal lainnya di kawasan ini berada di tangan rezim Israel; namun inspeksi justru dituntut dari Iran!” kata Pezeshkian dalam pidatonya, dilansir dari Press TV, Kamis (24/9/2026).

Dia juga mengkritik dukungan Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat terhadap Israel di tengah perang di Gaza.

“Israel membantai 70.000 orang di Gaza, namun Iran dibom di meja perundingan!” ujar Pezeshkian.

Pezeshkian kemudian kembali menyinggung status nuklir Israel yang selama ini menjadi isu kontroversial di Timur Tengah. Israel secara luas diyakini memiliki persenjataan nuklir, meski tidak pernah secara resmi mengakui maupun menyangkal kepemilikan tersebut.

Menurut Pezeshkian, Israel juga tidak pernah mengizinkan inspeksi internasional terhadap fasilitas nuklirnya. Sebaliknya, Iran berada di bawah pengawasan internasional terkait program nuklirnya.

“Saya ulangi: bom nuklir ada di Israel, tetapi inspektur berada di Iran! Israel membunuh, tetapi Iran dikenai sanksi!” katanya.

Iran Disebut Korban Terorisme

Dalam pidatonya, Pezeshkian juga menolak tuduhan bahwa Iran merupakan sumber terorisme dan ketidakstabilan di kawasan.

“Kami bukan teroris; kami adalah korban terorisme,” tegas Pezeshkian.

Dia kemudian menunjukkan sejumlah foto yang disebutnya mendokumentasikan dampak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Pezeshkian juga menyinggung kematian sejumlah tokoh dan warga Iran dalam konflik tersebut. Ia menyebut pemimpin Iran tewas dalam serangan pada hari pertama perang yang menurutnya dilancarkan Amerika Serikat dan Israel.

“Kami berasal dari Iran di mana Pemimpin kami dibunuh tanpa dasar hukum apa pun, tanpa bukti apa pun,” ujarnya.

Pezeshkian juga memperlihatkan foto anak-anak yang disebutnya menjadi korban serangan terhadap sebuah sekolah di Minab.

“Saya berasal dari Iran tempat mereka membom sebuah sekolah. Anda dapat melihat anak-anak ini. Mereka membom anak-anak ini dan membunuh mereka,” kata dia.

Ia kemudian menuding Washington menggunakan bom tandan dalam serangan terhadap sebuah fasilitas olahraga di Lamerd.

“Mereka membunuh para ilmuwan kita, rakyat kita, perempuan kita, dan anak-anak tak berdosa yang tidak melakukan kesalahan apa pun,” ujarnya.

Pezeshkian: Iran Tak Tunduk

Pezeshkian mengatakan Iran tidak menyerah meski menghadapi serangan militer dari Amerika Serikat dan Israel.

“Mereka menyerang, tetapi kami tidak menundukkan kepala di hadapan mereka. Kami membalas, tetapi kami tidak menyerang warga sipil,” kata Pezeshkian.

Dia juga menyebut bahwa serangan tersebut menyasar sejumlah fasilitas sipil dan infrastruktur Iran, termasuk sekolah, rumah sakit, universitas, serta jembatan.

Menurut Pezeshkian, serangan terhadap fasilitas tersebut merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.

Presiden Iran itu juga mengungkit pembunuhan pemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh di Teheran yang terjadi pada awal masa jabatannya sebagai presiden.

Pezeshkian kemudian mengaitkan konflik Iran-Israel dengan situasi di Gaza. Ia menuding Israel melakukan genosida dengan dukungan persenjataan dari negara-negara Barat.

“Di Gaza, mereka membantai lebih dari 80.000 manusia tak berdosa, dan ratusan ribu lainnya mengungsi,” katanya.

Dia pun mempertanyakan tuduhan bahwa Iran merupakan sumber ketidakstabilan di Timur Tengah.

“Apakah kita sumber ketidakstabilan? Kita yang ingin hidup mandiri dan menolak untuk tunduk—apakah kita sumber ketidakstabilan?” ujar Pezeshkian.

Pezeshkian menutup kritiknya dengan menyoroti apa yang disebutnya sebagai ketidakkonsistenan dalam penerapan hukum internasional.

“Jika mereka yang melakukan pembunuhan, pembunuhan berencana, dan kejahatan lainnya adalah agen keamanan dan perdamaian, sementara mereka tidak mematuhi satu pun aturan hukum internasional, maka inilah kenyataan yang kita hadapi,” pungkasnya.

Editor: Azis Arriadh

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

12 hours ago
2 days ago
3 days ago
3 days ago
4 days ago
4 days ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor