Laporan: Akbar Budi Prasetia
Lambang Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). TODAYNEWS.ID – Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) telah menderita kekalahan strategis dalam perangnya dengan Iran, tetapi tidak memiliki keberanian untuk mengakui dan menerima kekalahan bersejarah dan memalukan ini.
“Amerika Serikat telah dikalahkan dalam perang ini, dan kekalahannya juga merupakan kekalahan bersejarah dan memalukan, tetapi mereka tidak memiliki keberanian untuk mengakui dan menerima kekalahan ini,” kata Mohebbi, mengutip IRNA Selasa (22/9/2026).
Mohebbi menilai bahwa Washington tidak berhasil mencapai tujuan militernya dalam perang yang dipaksakan oleh AS-Israel sejak 28 Februari 2026 lalu.
Dia juga menyinggung kondisi Selat Hormuz yang hingga kini menjadi salah satu titik utama dalam ketegangan Iran-AS.
Menurutnya, ketidakmampuan AS membuka kembali Selat Hormuz menunjukkan kegagalan klaim Washington terkait keamanan maritim di kawasan.
Mohebbi juga mengatakan bahwa serangan rudal dan drone Iran telah berhasil menghantam pusat komando dan logistik AS di sejumlah negara kawasan.
Dia menyebut serangan tersebut membuat sebagian besar pangkalan AS tidak beroperasi dan memaksa kapal Armada Kelima AS menjauh hingga sekitar 400 kilometer dari Teluk Persia.
“Rudal dan drone Iran yang menyerang pusat komando dan logistik AS di negara-negara regional membuat sebagian besar pangkalan tersebut tidak beroperasi, dan memaksa kapal-kapal Armada Kelima AS untuk mundur hingga jarak 400 kilometer dari Teluk Persia,” katanya.
Selain itu, Mohebbi mengklaim serangan terhadap fasilitas intelijen AS di kawasan telah mengubah persepsi mengenai keunggulan teknologi militer Washington, termasuk pesawat tempur F-35 dan sistem pertahanan udara Patriot.
Dia juga menuding serangan terhadap lokasi sipil, termasuk sekolah di Minab dan sebuah acara pernikahan, serta dugaan penggunaan senjata non-konvensional di Lamerd telah merusak legitimasi AS di kawasan.
Mohebbi kemudian memperingatkan bahwa IRGC telah mempersiapkan diri menghadapi perang berkepanjangan. Menurut dia, Iran akan menggunakan persenjataan baru dan memperluas wilayah konflik jika kembali diserang.
“Jika agresi lain terjadi, pasti akan ada perubahan signifikan dalam pertahanan dan serangan balasan kita. Kita pasti akan mengubah geografi perang,” tegasnya.
Editor: Azis Arriadh