Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam acara Simposium PT SMI 2026 di Jakarta, Rabu (22/4/2026) (Foto: ANTARA) TODAYNEWS.ID — Pemerintah memastikan belum akan mengubah asumsi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Sikap tersebut tetap diambil meski kurs rupiah saat ini masih bergerak di kisaran Rp18.000 per dollar AS.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah masih menahan diri untuk melakukan penyesuaian terhadap asumsi makro yang telah disampaikan sebelumnya. Pemerintah memilih menunggu perkembangan pasar sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.
Purbaya menilai kondisi pelemahan rupiah saat ini belum dapat dijadikan dasar untuk mengubah asumsi nilai tukar dalam RAPBN 2027. Ia menegaskan gejolak yang terjadi masih berada pada tahap awal.
“Kalau sekarang terlalu cepat untuk mengubah asumsi rupiah-dollar. Ini masih gejolak awal, kita belum tahu titik stabilnya di mana,” ujar Purbaya usai bertemu Menteri PPN/Kepala Bappenas di Kantor Bappenas, Jakarta, Senin (8/6/2026).
Saat ini, nilai tukar rupiah berada di level yang lebih lemah dibandingkan asumsi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF). Dalam pidato tersebut, asumsi kurs rupiah berada pada rentang Rp16.800 hingga Rp17.500 per dollar AS.
Meski terdapat selisih dengan kondisi pasar saat ini, pemerintah belum melihat urgensi untuk segera merevisi asumsi tersebut. Kementerian Keuangan masih melakukan pemantauan terhadap dinamika ekonomi dan pasar keuangan.
Menurut Purbaya, pergerakan nilai tukar pada akhirnya akan menemukan titik keseimbangan baru. Pemerintah ingin melihat posisi stabil tersebut sebelum menghitung dampaknya terhadap postur anggaran negara.
“Harusnya ada menuju kestabilan yang baru. Di situlah kita baru akan melihat seperti apa pengaruhnya ke anggaran kita,” katanya.
Di tengah tekanan yang masih terjadi pada rupiah, Purbaya tetap menunjukkan optimisme terhadap prospek nilai tukar pada tahun depan. Ia meyakini peluang penguatan rupiah masih tersedia jika kondisi ekonomi nasional dapat dijaga dengan baik.
Purbaya menjelaskan bahwa arah pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh keberhasilan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Program pembangunan yang berjalan sesuai rencana dinilai dapat memperkuat fundamental ekonomi nasional.
“Saya pikir ruang untuk penguatan terbuka lebar. Selama kita berdua (dengan Menteri PPN/Kepala Bappenas), beliau merancang, saya mencoba membiayai pembangunannya, dan Bapak Presiden memberikan arah yang pas, ruang untuk tumbuh lebih cepat terbuka lebar,” ujar Purbaya.
Ia menambahkan percepatan pertumbuhan ekonomi akan memberikan dampak positif terhadap pergerakan mata uang nasional. Kondisi tersebut dinilai dapat mendorong rupiah menguat secara bertahap.
“Kalau itu terjadi, maka otomatis rupiahnya harusnya pelan-pelan akan menguat,” katanya.
Meski optimistis terhadap prospek rupiah, Purbaya mengingatkan bahwa asumsi makro dalam RAPBN 2027 belum bersifat final. Namun, hingga saat ini pemerintah memastikan belum ada rencana untuk mengubah asumsi nilai tukar yang telah disampaikan dalam KEM-PPKF.