Lambang Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). TODAYNEWS.ID — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa pemerintahannya membuka pembicaraan rahasia dengan pasukan elite Iran pada Mei lalu.
Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, menyebut pernyataan Trump sebagai kebohongan. Ia mengatakan tidak ada negosiasi antara pejabat IRGC dan Amerika Serikat sejak serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari.
“Klaim Trump tentang pembicaraan rahasia dengan IRGC adalah delusi yang muncul dari kekalahan,” kata Mohebbi pada Senin, seperti dikutip kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, pada Rabu (19/8/2026).
Menurut dia, selama enam bulan terakhir Iran dan Amerika Serikat memang menjalani periode negosiasi tidak langsung. Namun, pembicaraan tersebut tidak melibatkan pejabat IRGC.
“IRGC adalah lengan dan suara kekuatan bangsa Iran dan Republik Islam. Mereka menyampaikan pesan di medan perang. Urusan diplomatik berada dalam lingkup sektor lain dari Republik Islam,” ujar Mohebbi.
Mohebbi juga menuding klaim Trump bertujuan mengendalikan sementara harga minyak dan energi dunia. Menurut dia, posisi Iran yang kuat di Selat Hormuz menjadi faktor penting dalam situasi tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis di Teluk Persia yang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dunia.
“Fantasi mental Trump tidak akan membantunya di medan perang,” kata Mohebbi. Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat hanya dapat mencegah kerugian yang lebih besar dengan menerima kekalahan dan memenuhi syarat yang diajukan Iran untuk memulihkan lalu lintas minyak secara normal di Teluk Persia.
Sebelumnya, dalam wawancara dengan Fox News pada Senin, Trump tampak mengonfirmasi laporan mengenai adanya komunikasi rahasia antara Washington dan IRGC.
Pernyataan itu muncul sehari setelah Axios melaporkan bahwa pada Mei, negosiator Amerika Serikat yang berupaya mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang menghubungi langsung pimpinan IRGC. Kontak tersebut, menurut laporan Axios, dilakukan melalui Nechirvan Barzani, Presiden Wilayah Kurdistan Irak.
Trump sebelumnya mengatakan perwakilannya telah membuka jalur komunikasi rahasia langsung dengan Iran. Klaim itu kini dibantah oleh IRGC.