Laporan: Dhanis
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei. Dok. Kemlu Ira TODAYNEWS.ID – Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei, memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa setiap serangan baru terhadap negaranya akan dibalas dengan kekuatan yang lebih besar.
Baghaei menegaskan, negaranya tidak akan membiarkan serangan terhadap wilayahnya berlalu tanpa respons.
“Era serang-dan-lari sudah berakhir,” kata Baghaei dalam konferensi pers pada Selasa (20/10/2026) seperti dilaporkan kantor berita Iran, Press TV.
“Kami telah menunjukkan dalam praktiknya bahwa kami tidak akan membiarkan serangan apa pun tanpa balasan. Kami akan membalas dengan cara yang sama, bahkan mungkin lebih keras,” kata Baghaei menambahkan.
Pernyataan itu muncul setelah beredar laporan mengenai kemungkinan serangan AS terhadap Gunung Kolang di Provinsi Isfahan, Iran bagian tengah yang diklaim Washington sebagai lokasi penyimpanan uranium milik Iran.
Menanggapi ancaman itu, Baghaei mengatakan militer Iran telah bersiap menghadapi kemungkinan serangan tersebut.
“Angkatan bersenjata kami siap untuk menangkis setiap tindakan dari pihak agresor,” katanya.
Di sisi lain, Teheran mengisyaratkan bahwa jalur negosiasi belum sepenuhnya tertutup. Baghaei mengungkapkan Iran telah menyampaikan tuntutannya kepada Washington melalui Qatar, tetapi jawaban yang diterima belum memuaskan pemerintah Iran.
“Tuntutan kami jelas. Pesan yang diterima dari Amerika Serikat tidak memadai,” ujar Baghaei.
Ia menegaskan Iran tetap berpegang pada tujuh syarat yang sebelumnya diajukan sebagai bagian dari upaya penyelesaian konflik.
Bulan lalu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, menyatakan Teheran telah menyampaikan tujuh syarat tersebut melalui Qatar dan masih menunggu jawaban Presiden AS Donald Trump.
Baghaei menyebut penghentian perang di seluruh front, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta pengakhiran blokade laut sebagai bagian dari tuntutan utama Teheran.
“Syarat kami adalah diakhirinya perang di semua lini, pencairan dana kami yang dibekukan, dan diakhirinya blokade angkatan laut,” kata Baghaei.
Ia menilai pemenuhan tuntutan tersebut tidak hanya penting bagi Iran, tetapi juga sejalan dengan kepentingan Washington. Karena itu, menurut dia, AS perlu mengambil keputusan untuk membuka jalan menuju penyelesaian konflik.
Baghaei juga menyoroti proposal Iran yang dikenal sebagai “Rencana Tujuh Hari” untuk membuka kembali Selat Hormuz dengan sejumlah persyaratan.
Iran sebelumnya menutup jalur pelayaran strategis tersebut sebagai respons atas serangan AS-Israel dan tindakan Washington yang dipandang Teheran sebagai pelanggaran berkelanjutan.
Namun, Baghaei menilai tuntutan Washington yang berlebihan menjadi salah satu kendala utama dalam pelaksanaan rencana tersebut.
Meski hubungan kedua negara masih diwarnai ketegangan, ia memastikan Iran tidak akan meninggalkan diplomasi apabila negosiasi dapat mencegah konflik berkembang lebih jauh.
Sikap itu menunjukkan bahwa Teheran berupaya mempertahankan tekanan terhadap Washington sembari tetap membuka kemungkinan penyelesaian melalui perundingan.
Baghaei juga membantah tudingan bahwa Iran berusaha menguasai Selat Hormuz demi memperluas pengaruh regional. Ia menyatakan kebijakan Teheran terhadap jalur tersebut ditujukan untuk menjaga kepentingannya, bukan membangun dominasi di kawasan.
Menurut Baghaei, akar persoalan keamanan di sekitar Selat Hormuz justru terletak pada operasi militer AS dan Israel terhadap Iran.
“Negara-negara di kawasan telah menyaksikan bahwa kehadiran militer AS tidak menciptakan keamanan. Sebaliknya, kehadiran itu justru menciptakan ketidakamanan,” pungkasnya.
Editor: Azis Arriadh