Anggota Komisi V DPR RI Teguh Iswara Suardi. Foto: Istimewa TODAYNEWS.ID – Anggota Komisi V DPR RI Teguh Iswara Suardi, menyoroti kegagalan sistem persinyalan yang diduga menjadi penyebab insiden kecelakaan tabrakan kereta yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, pada Senin (27/4) malam.
Ia mendesak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan investigasi menyeluruh, independen, dan transparan untuk mengungkap penyebab utama kecelakaan.
Menurutnya, setiap insiden transportasi tidak boleh dipandang sebagai kejadian tunggal, melainkan momentum evaluasi total terhadap sistem keselamatan perkeretaapian nasional.
“KNKT harus bergerak cepat melakukan investigasi komprehensif agar masyarakat memperoleh kejelasan, sekaligus memastikan penyebab utama kejadian ini terungkap secara objektif,” ujar Teguh pada Rabu (29/4/2026).
“Jangan sampai tragedi serupa terus berulang karena lemahnya pembenahan sistem,” tambah Teguh.
Adapun kronologi kecelakaan KA di Bekasi bermula ketika rangkaian KRL relasi Bekasi–Cikarang tertemper taksi listrik di perlintasan sebidang JPL 85.
Akibat kejadian tersebut, rangkaian KRL harus dievakuasi dan ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181 karena berhenti berdinas dan berjalan di luar jadwal reguler.
Sebagai dampaknya, petugas memberhentikan satu rangkaian KRL lainnya dengan kode PLB 5568 yang mengarah ke Cikarang di peron Stasiun Bekasi Timur.
Namun, KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta–Surabaya tidak sempat berhenti sepenuhnya sehingga terlibat insiden dengan KA PLB 5568 yang sedang berhenti.
Oleh karena itu, Teguh menilai hasil investigasi harus menjadi dasar perbaikan menyeluruh bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk operator, regulator, dan pengawas transportasi.
Legislator Fraksi NasDem itu juga mendorong PT Kereta Api Indonesia (KAI) memperkuat sistem peringatan dini berbasis teknologi modern untuk mendeteksi potensi gangguan sejak awal.
“Ke depan, sistem peringatan dini menjadi kebutuhan mutlak. Teknologi harus hadir untuk membaca potensi bahaya lebih awal, baik dari sisi jalur, cuaca ekstrem, gangguan teknis, maupun faktor operasional lainnya,” ujarnya.
Menurutnya, sistem tersebut harus terintegrasi dengan pusat kendali operasional, sensor lapangan, dan prosedur tanggap darurat agar respons terhadap potensi bahaya dapat dilakukan secara real time.
Selain itu, Teguh juga mengimbau masyarakat untuk lebih disiplin saat melintasi perlintasan kereta api dan tidak menerobos palang pintu demi keselamatan bersama.
Teguh menegaskan bahwa keselamatan transportasi harus menjadi prioritas utama dalam pembangunan sektor perkeretaapian nasional.
“Nyawa manusia jauh lebih berharga dari apa pun. Karena itu, setiap insiden harus dijawab dengan reformasi sistem keselamatan yang nyata,” pungkasnya.