Laporan: Akbar Budi Prasetia
Presiden Republik Islam Iran Masoud Pezeshkian saat berpidato di Sidang Majelis Umum PBB. Foto: New York Times/Deff sander TODAYNEWS.ID – Presiden Iran Masoud Pezeshkian membantah tudingan bahwa negaranya berupaya mendominasi kawasan. Ia menegaskan, Iran tidak pernah menyerang negara lain dalam 200 tahun terakhir dan penggunaan kekuatan oleh negaranya semata-mata ditujukan untuk membela diri.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini seperti dikutip dari laporan kantor berita Iran, Press TV, Minggu (27/9/2026).
“Kami menginginkan kekuatan untuk membela diri, bukan untuk menyerang. Kami menginginkan energi untuk pembangunan, bukan untuk membuat bom, melakukan penghancuran, atau mengancam masyarakat,” kata Pezeshkian.
Ia menegaskan, Iran juga ingin berkontribusi terhadap keamanan kawasan. Pezeshkian turut menyoroti ketahanan masyarakat Iran selama perang yang disebutnya sebagai agresi Amerika Serikat dan Israel.
Menurut dia, masyarakat Iran turun ke jalan untuk mempertahankan negara sekaligus mencegah kekacauan di dalam negeri.
“Selama tujuh bulan, rakyat Iran turun ke jalan siang dan malam. Rakyat adalah kekuatan kita, dan kita berdiri bersama kekuatan rakyat,” ujarnya.
Terkait kemampuan pertahanan Iran, Pezeshkian mengatakan negaranya tidak akan tinggal diam apabila wilayahnya diserang.
“Sistem pertahanan kami dibangun sedemikian rupa sehingga tidak ada yang membayangkan bahwa pemboman kota-kota Iran akan dibiarkan tanpa balasan,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak membutuhkan izin negara lain untuk mempertahankan diri.
“Kekuatan Iran adalah untuk pertahanan. Tetapi kami menyatakan dengan jelas: kami tidak meminta izin dari siapa pun untuk membela negara kami,” ujar Pezeshkian.
Menurut Pezeshkian, Iran harus memiliki kekuatan yang cukup untuk menjamin kelangsungan hidup dan kemajuannya. Namun, kekuatan tersebut tidak boleh digunakan untuk mendominasi negara lain.
“Iran harus cukup kuat sehingga kelangsungan hidup dan kemajuannya tidak terancam, cukup bertanggung jawab untuk tidak menggunakan kekuatannya untuk dominasi, dan cukup berpandangan jauh ke depan untuk tidak mencari keamanannya sendiri dalam ketidakamanan negara-negara tetangganya,” tuturnya.
Tegaskan Program Nuklir untuk Tujuan Damai
Dalam pidatonya, Pezeshkian juga membahas program nuklir Iran. Ia menolak anggapan bahwa pengetahuan dan teknologi nuklir hanya boleh dimiliki sejumlah negara.
Menurut dia, teknologi nuklir merupakan bagian dari hak Iran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan perekonomiannya.
“Energi nuklir berarti pengobatan bagi pasien kita, ketahanan pangan untuk pertanian, teknologi untuk industri, dan listrik berkelanjutan untuk masa depan,” katanya.
Pezeshkian menegaskan Iran tidak menganggap senjata nuklir sebagai bagian dari strategi keamanan negaranya. Namun, Iran juga tidak akan meninggalkan haknya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, industri, dan energi nuklir untuk tujuan damai.
“Kami menyatakan secara tegas: tidak ada senjata nuklir, dan tidak ada pula pencabutan akses terhadap pengetahuan nuklir,” ujarnya.
Ia juga menilai persoalan program nuklir Iran tidak dapat diselesaikan melalui perang. Menurut dia, penyelesaian harus ditempuh melalui kesepakatan yang memberikan jaminan kepada dunia mengenai sifat damai program nuklir Iran.
Di sisi lain, kesepakatan tersebut, kata Pezeshkian, juga harus memberikan jaminan kepada rakyat Iran bahwa hak-hak mereka tetap dilindungi.
“Solusinya adalah kesepakatan yang memberikan jaminan kredibel kepada dunia tentang sifat damai program Iran, dan memberikan jaminan kepada rakyat Iran bahwa hak-hak mereka akan dilindungi,” kata Pezeshkian.
Editor: Azis Arriadh