x

Maman Kritik Kepemimpinan Sidang Muktamar NU

waktu baca 3 menit
Senin, 31 Agu 2026 09:00 43 Akbar Budi

TODAYNEWS.ID – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka, KH Maman Imanulhaq mengkritik keras keputusan pimpinan sidang Muktamar NU ke-35 yang kembali memberlakukan Peraturan Perkumpulan (Perkum) terkait masa “iddah politik” bagi calon Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.

Kiai Maman mempertanyakan sikap Ketua Pimpinan Sidang Muktamar NU ke-35, Prof M. Nuh, yang dinilai kembali membuka ruang bagi pemberlakuan ketentuan tersebut dengan cara berlindung di balik punggung Masyayikh, meski sebelumnya telah dibahas dan disepakati dalam rapat pleno Komisi Organisasi.

Menurut Maman, keputusan tersebut berpotensi membatasi kesempatan kader Nahdlatul Ulama untuk mengikuti kontestasi Ketua Umum PBNU, khususnya kader yang belum genap satu tahun meninggalkan jabatan politik.

Kritik itu disampaikan Maman dalam serial talkshow “Mimbar Muktamar NU” bertajuk “Saat Muktamirin Dipermainkan” yang digelar Suluh Nahdliyin di Pondok Pesantren Al Maliki 2 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Minggu (30/8/2026).

Maman mengaku sempat menyambut gembira ketika ketentuan mengenai “iddah politik” tidak lagi diberlakukan. Namun, menurut dia, kekecewaan muncul ketika aturan tersebut kembali dimunculkan dalam proses persidangan.

“Setelah kita bergembira karena ada ketiadaan iddah politik, lalu dimunculkan lagi oleh Prof Nuh. Kenapa beliau tiba-tiba mengecewakan?” ujar Maman.

Ia menilai persoalan tersebut semestinya tidak perlu muncul kembali karena dalam rapat komisi telah terdapat kesepakatan mengenai aturan tersebut dan tinggal dibawa ke pleno untuk disahkan.

“Di rapat komisi itu sudah muncul. Tinggal ditanya setuju, kemudian di pleno diketok. Sebenarnya kan begitu,” katanya.

Maman menyayangkan dinamika tersebut karena dinilai telah mengecewakan para muktamirin yang hadir membawa mandat dari daerah masing-masing.

“Tapi dengan canggih beliau melakukan itu. Begitu kecewanya para muktamirin dengan kepemimpinan beliau seperti itu,” ucapnya.

Ia berharap persoalan tersebut tidak mengganggu marwah dan nilai-nilai perjuangan Nahdlatul Ulama. Kiai Maman bahkan mengingatkan bahwa NU merupakan organisasi yang memiliki akar kuat dalam tradisi ulama.

“Mudah-mudahan Allah mengampuni beliau. Lalu kita berharap juga. Saya yakin kok, yang namanya NU itu keramat. NU itu miliknya para ulama,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Maman juga menceritakan adanya doa yang disebut berasal dari Hadrotus Syekh untuk Nahdlatul Ulama.

Menurut dia, sejumlah ulama dalam momentum Muktamar NU turut memanjatkan doa agar NU tetap berada dalam jalur perjuangannya.

Karena itu, ia meyakini akan selalu ada dinamika dan tantangan yang menguji perjalanan NU, termasuk upaya yang menurutnya dapat mengganggu nilai-nilai orisinalitas perjuangan organisasi.

“Saya sangat-sangat haqqul yakin, ketika kita meyakini NU sebagai kita Nahdliyin memandang NU sebagai nahnu ahlul haq, maka akan ada orang yang mencoba terus-menerus mengganggu nilai-nilai orisinalitas perjuangan NU itu,” ujarnya.

Maman kemudian mempertanyakan konsistensi penerapan aturan dalam proses Muktamar.

Jika alasan yang digunakan adalah menegakkan aturan, menurut dia, semestinya aturan tersebut juga dirumuskan dan diputuskan secara konsisten melalui mekanisme persidangan.

“Makanya ketika kalimatnya adalah menegakkan aturan, kenapa aturannya tidak kita rumuskan kembali?” katanya.

Ia menegaskan, para muktamirin datang dari berbagai daerah dengan membawa mandat dan harapan besar terhadap masa depan NU memasuki abad kedua.

Mereka, kata dia, berharap organisasi dipimpin oleh sosok yang memiliki kualitas dan kapasitas untuk membawa NU menghadapi tantangan ke depan.

Namun, perubahan sikap dalam proses persidangan dinilai dapat membuat harapan tersebut berubah menjadi kekecewaan.

“Suara-suara muktamirin yang sudah datang dari daerah-daerah, membawa mandat, membawa imaji besar bahwa NU di abad ke-2 ini akan dipimpin oleh seseorang yang memiliki kualitas dan lain sebagainya, mereka tiba-tiba ibarat kerupuk yang sudah digoreng, sudah renyah, tiba-tiba disiram dengan air, ngepes kembali,” kata Maman.

Ia meyakini banyak muktamirin yang merasakan kekecewaan serupa atas dinamika tersebut. “Saya yakin banyak orang yang kecewa,” pungkasnya.

Pilkada & Pilpres

INSTAGRAM

21 hours ago
1 day ago
3 days ago
4 days ago
4 days ago
4 days ago

LAINNYA
x
x

mancingduit

situs slot gacor