Sebuah rudal Iran melesat di langit di atas Israel, seperti terlihat dari al-Khalil, di Tepi Barat yang diduduki Israel, 7 Juni 2026. Foto: Reuters TODAYNEWS.ID – Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan serangan rudal besar-besaran ke wilayah pendudukan Israel pada Minggu (7/6/2026).
Serangan ini merupakan respons langsung atas aksi militer Israel di Lebanon yang terus-menerus melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Menurut laporan media Israel, sirene meraung di seluruh wilayah pendudukan, termasuk Dataran Tinggi Golan yang diduduki, Tiberias, Safed, Nazareth, Haifa, dan beberapa kota lainnya.
Militer Israel mengatakan sistem pertahanan udara tetap dalam keadaan siaga tinggi, sementara kementerian pendidikan rezim mengumumkan penutupan semua sekolah dan pusat pendidikan untuk hari mendatang karena kondisi keamanan.
Sebagaimana laporan kantor berita Iran, Press TV pada Senin (8/6/2026), perasi Iran ini merupakan respons langsung terhadap agresi berkelanjutan rezim Zionis terhadap Lebanon, termasuk penggunaan bom fosfor terlarang dan penargetan pinggiran selatan Beirut (Dahiyeh).
Setelah operasi pembalasan tersebut, Komandan Markas Besar Khatam al-Anbiya, menyatakan bahwa Israel telah melewati “semua batas merah” karena memperluas radius serangannya.
“Kami sebelumnya telah memperingatkan bahwa jika kejahatan meluas hingga ke Dahiyeh, Beirut, kami akan menyerang target di dalam wilayah pendudukan,” bunyi pernyataan resmi komando militer Iran.
Komando pusat angkatan bersenjata Iran itu juga memperingatkan akan adanya “pukulan telak dan penuh penyesalan” lebih lanjut jika serangan Israel terhadap Lebanon terus berlanjut atas dukungan langsung Amerika dan kebungkaman internasional.
Pernyataan tersebut selanjutnya mencatat bahwa rezim tersebut telah menggunakan senjata terlarang, termasuk bom fosfor, untuk melakukan kejahatan perang terhadap warga sipil di Lebanon selatan.
“Dengan lampu hijau dan dukungan dari Amerika yang kriminal serta kebungkaman badan-badan internasional, rezim Zionis yang agresif semakin meningkatkan kekejamannya terhadap rakyat Lebanon yang tertindas melalui pelanggaran gencatan senjata yang berulang,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Komando militer tertinggi selanjutnya mengeluarkan ultimatum, menuntut agar tentara Zionis segera menghentikan semua serangan terhadap Lebanon selatan dan Dahiyeh.