Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan kepada awak media usai menghadiri agenda di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (3/6/2026). (Foto: ANTARA) TODAYNEWS.ID — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons sorotan media internasional mengenai fenomena “sell Indonesia” yang muncul di tengah tekanan terhadap pasar keuangan domestik. Ia menegaskan kondisi ekonomi nasional tidak bisa dinilai hanya dari pergerakan pasar dalam jangka pendek.
Purbaya menilai sejumlah analisis yang berkembang belum sepenuhnya menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia secara menyeluruh. Menurut dia, investor perlu melihat berbagai indikator ekonomi secara lebih komprehensif.
Ia mengaku telah membaca laporan yang membahas tren jual aset Indonesia. Namun, Purbaya menilai tidak semua pihak memahami kondisi riil perekonomian nasional.
“Itu kan diterbitkan, itu tren jual Indonesia saya baca di Bloomberg ya, salah satu penulis mungkin nggak tau keadaan Indonesia seperti apa,” kata Purbaya di Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
Untuk meredam sentimen negatif di pasar, Kementerian Keuangan mempercepat publikasi laporan APBN KiTA. Langkah itu dilakukan agar pelaku pasar memperoleh gambaran terbaru mengenai kondisi fiskal pemerintah.
Purbaya mengatakan laporan tersebut menunjukkan kesehatan fiskal Indonesia masih terjaga. Ia juga menilai kondisi ekonomi nasional tetap berada dalam jalur yang positif.
“Ketika kemarin, makanya kemarin sengaja saya percepat APBN KiTA, untuk melihatkan ke pasar bahwa kondisi fiskal kita baik, ekonominya juga cukup kuat,” ujarnya.
Ia berharap publikasi data fiskal yang lebih cepat dapat membantu mengurangi kekhawatiran investor. Menurutnya, sentimen negatif akan mereda jika pasar memahami kondisi ekonomi secara objektif.
Purbaya juga mengajak investor untuk tidak hanya berfokus pada pergerakan nilai tukar maupun pasar saham. Ia meminta pelaku pasar mencermati data ekonomi secara lebih rinci sebelum mengambil keputusan investasi.
“Jadi, teman-teman investor tolong lihat lebih detail, pahami kondisi ekonomi kita seperti apa,” ucapnya.
Menurut Purbaya, kekuatan fiskal dan ekonomi Indonesia masih menjadi fondasi penting dalam menghadapi gejolak global. Ia juga menilai kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mampu menjaga arah pembangunan nasional.
“Yang bisa saya katakan sekarang adalah fiskal bagus, ekonomi bagus, kepemimpinan bapak presiden masih cukup kuat untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan strategi pembangunan presiden,” lanjutnya.
Sebelumnya, media internasional Bloomberg menyoroti pelemahan signifikan pasar keuangan Indonesia sepanjang 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebut telah terkoreksi sekitar 36 persen dan menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia tahun ini.
Selain pelemahan IHSG, rupiah juga dilaporkan terdepresiasi lebih dari 7 persen terhadap dolar AS. Kondisi tersebut diikuti arus keluar dana asing dari pasar obligasi domestik dalam jumlah besar.
Sorotan terhadap Indonesia semakin menguat setelah sejumlah pelaku pasar global menyebut tren “sell Indonesia” sebagai salah satu perdagangan yang paling populer di Asia saat ini. Meski demikian, pemerintah menegaskan fundamental ekonomi nasional tetap kuat dan mampu menjadi penopang stabilitas di tengah tekanan pasar global.