TODAYNEWS.ID – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah meluncurkan serangkaian serangan balasan yang menargetkan kapal musuh, pangkalan udara regional milik Amerika Serikat, serta markas besar Armada Kelima AS di Bahrain.
Langkah agresif ini diambil menyusul dua aksi militer AS yang dituding sengaja menyasar aset-aset penting Iran.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh Kantor Hubungan Masyarakat IRGC pada Rabu (3/6/2026) seperti dilaporkan kantor beritaPress TV, ketegangan bermula pada larut malam ketika sebuah kapal tanker minyak milik Iran diserang di dekat Selat Hormuz.
“Militer AS yang agresif menyerang kapal tanker minyak Iran menggunakan proyektil udara di sekitar Selat Hormuz. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada ruang mesin kapal,” tulis pernyataan resmi IRGC.
Insiden tersebut langsung memicu reaksi keras dari unit angkatan laut Iran. Sebagai bentuk pembalasan atas pelanggaran aturan di Selat Hormuz, IRGC langsung meluncurkan rudal ke arah kapal yang mereka sebut sebagai kapal musuh.
“Sebuah kapal musuh Amerika-Zionis bernama Panaya menjadi sasaran rudal yang diluncurkan oleh Angkatan Laut IRGC,” tegas Korps tersebut.
Pernyataan itu kemudian menjelaskan tindakan agresi kedua. “Dalam aksi agresi yang diperbarui, musuh Amerika menargetkan menara komunikasi IRGC di bagian selatan Pulau Qeshm dengan proyektil udara.”
IRGC mengatakan bahwa serangan itu diikuti oleh operasi pembalasan yang dilakukan oleh Angkatan Udaranya.
“Sebagai tanggapan atas agresi ini, pangkalan udara dan helikopter mereka yang ditempatkan di salah satu negara di kawasan tersebut, serta markas besar Armada Kelima AS, menjadi sasaran serangan rudal dan pesawat tak berawak oleh Angkatan Udara Garda Revolusi Islam (IRGC).”
Pangkalan Udara dan Markas Armada Kelima AS Jadi Sasaran
Merespons serangan kedua, Angkatan Udara IRGC langsung mengambil alih komando operasi pembalasan. Mereka meluncurkan serangan kombinasi menggunakan rudal dan pesawat tak berawak (drone).
“Kami sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap tindakan agresi akan dibalas dengan respons yang berbeda dan lebih berat, dan kami bertindak sesuai dengan peringatan tersebut. Respons ini seharusnya menjadi pelajaran.”
“Kami menegaskan kembali bahwa mengganggu keamanan Selat Hormuz akan membawa konsekuensi berat bagi militer AS yang agresif,” tegas IRGC.