Anggota Komisi IV DPR RI Riyono Caping. Foto: Istimewa TODAYNEWS.ID – Anggota Komisi IV DPR RI Riyono Caping, menilai kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam panen langsung Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) Kebumen, menjadi langkah penting bagi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk terus meningkatkan budidaya di sektor perikanan.
Menurut Riyono, udang sebagai komoditas ekspor unggulan nasional saat ini menjadi primadona bagi kontributor kesejahteraan petambak dan pembudidaya.
“Presiden hadir untuk panen ini memberikan instruksi bahwa budidaya adalah penting dan pilar kesejahteraan rakyat. KKP harus optimalkan dan tancap gas kelola udang vaname,” kata Riyono dalam keterangannya, Senin (25/5/2026).
Sektor budidaya udang dalam negeri, lanjut Riyono, terus mengalami pertumbuhan yang signifikan di tengah dinamika internasional.
“Sektor budidaya tahun 2024 mampu produksi 17,4 juta ton. Khusus udang, tahun 2020 baru 550.000 ton, 2021 naik 650 ribu ton, dan 2024 menjadi 1,2 juta ton. Artinya, lima tahun terakhir kenaikan produksi udang vaname bisa 100 persen lebih,” ujar Riyono.
Riyono mengatakan bahwa BUBK Kebumen berhasil memanen 43 ton udang dalam satu parsial dari total lahan 20 hektare. Bahkan, menurutnya hasil panen bisa mencapai lebih dari 150 ton dengan nilai panen lebih dari Rp10 miliar.
Sebab itu, bagi Riyono, tidak ada alasan lagi bagi BUMN di sektor ini untuk mencatat rapor merah. Legislator Fraksi PKS ini menekankan agar bisnis udang harus menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan.
“Waktunya sekarang BUMN yang harus mengelola BUBK ini. KKP sudah membangun dan memberikan pondasi usaha bisnisnya. Agrinas dan Perindo harus bisa kelola dengan baik sehingga bisa menguntungkan. BUMN bisnis udang harus untung,” jelas Riyono.
Lebih lanjut, kata Riyono, keberhasilan panen ini menjadi bukti bahwa jika bisnis dikelola dengan baik maka akan menguntungkan negara dan membawa kesejahteraan bagi rakyat.
“Bisnis udang masih sangat menguntungkan. Kebutuhan udang dunia masih dinamis bergerak. Tahun 2025 dunia mengonsumsi udang hampir 6,2 juta ton. Produksi sudah tembus 6 juta ton lebih. Indonesia sebagai produsen nomor lima dunia setelah China, Ekuador, India, dan Vietnam. Peluang Indonesia menjadi pemain udang nomor satu masih mungkin,” tutup Riyono.