Arsip Foto – Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di zona demiliterisasi yang memisahkan dua Korea, di Panmunjom, Korea Selatan, Minggu (30/6/2019). (Foto: Reuters) TODAYNEWS.ID — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif hingga 50 persen terhadap China setelah muncul laporan dugaan pengiriman sistem pertahanan udara ke Iran, namun Beijing membantah keras tuduhan tersebut dan menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Situasi ini menambah ketegangan global di tengah konflik yang melibatkan Iran dan kawasan Timur Tengah.
Laporan mengenai dugaan tersebut berasal dari sejumlah media internasional. Informasi itu mengutip sumber yang mengetahui penilaian intelijen Amerika Serikat.
Disebutkan bahwa sistem yang dimaksud mencakup rudal anti-pesawat. Senjata tersebut dapat ditembakkan dari bahu oleh personel di lapangan.
Jenis rudal itu disebut mirip dengan yang diklaim digunakan Iran. Senjata tersebut dikaitkan dengan insiden jatuhnya jet tempur F-15 pada awal April lalu.
Menanggapi laporan tersebut, Trump langsung mengeluarkan peringatan keras kepada China. Ia mengancam akan mengambil langkah ekonomi sebagai respons.
Ancaman tersebut berupa penerapan tarif tinggi terhadap produk China. Besarannya disebut bisa mencapai 50 persen.
Namun pemerintah China segera membantah tuduhan tersebut. Beijing menyebut laporan itu tidak memiliki dasar yang jelas.
Melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, China menegaskan sikapnya. Mereka menyatakan selalu berhati-hati dalam kebijakan ekspor militer.
China juga mengklaim mematuhi aturan internasional yang berlaku. Sikap tersebut ditegaskan sebagai komitmen terhadap stabilitas global.
“Kami menolak fitnah yang tidak berdasar,” ujar perwakilan Kementerian Luar Negeri China.
Di tengah polemik tersebut, China juga merespons isu lain terkait kawasan. Beijing menyinggung rencana Amerika Serikat memblokade Selat Hormuz.
China berharap ketegangan yang ada tidak semakin meningkat. Mereka mendorong semua pihak untuk kembali ke jalur diplomasi.
Selain itu, China mengingatkan pentingnya menjaga gencatan senjata sementara. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah konflik meluas.
“Tiongkok berharap pihak-pihak terkait akan mematuhi perjanjian gencatan senjata sementara, terus menyelesaikan perbedaan melalui cara politik dan diplomatik, menghindari berkobarnya kembali perang, dan menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi kembalinya perdamaian dan ketenangan secepatnya,” katanya, dikutip dari Kementerian Luar Negeri China.