Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago. Foto: Istimewa TODAYNEWS.ID – Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menyoroti isu reshuffle Kabinet Merah Putih yang kembali menguat di tengah tekanan energi global dan meningkatnya dinamika oposisi di ruang publik.
Arifki menilai wacana reshuffle sejatinya bukan muncul tiba-tiba, melainkan bagian dari rencana sebelumnya yang kini menemukan konteksnya.
Namun, dalam situasi saat ini, rencana tersebut bertemu dengan tekanan eksternal dan dinamika internal yang kian menguat.
“Reshuffle ini bukan muncul mendadak. Momentumnya saja yang sekarang terasa lebih kuat karena bertemu dengan tekanan energi global dan mulai menguatnya narasi oposisi di ruang publik,” ujar Arifki pad Rabu (8/4/2026).
Menurutnya, kondisi global yang berdampak pada sektor energi dan ekonomi membuat pemerintah perlu memastikan kesiapan tim di dalam kabinet untuk merespons situasi secara cepat dan tepat.
“Dalam situasi seperti ini, Presiden Prabowo Subianto tentu akan lebih berhati-hati. Yang dibutuhkan bukan sekadar figur politik, tetapi menteri yang benar-benar ahli dan mampu membantu memperkuat kinerja pemerintah,” jelasnya.
Di sisi lain, ia melihat dinamika oposisi mulai membentuk ruang persepsi publik yang tidak bisa diabaikan. Meski belum seluruhnya terinstitusionalisasi dalam sikap partai politik, narasi kritik dinilai mulai berkembang dan menguji respons pemerintah.
“Tekanan dari luar dan dalam ini bertemu dalam satu momentum. Karena itu, setiap langkah pemerintah, termasuk reshuffle, akan dibaca lebih luas oleh publik,” katanya.
Arifki menilai, reshuffle pada akhirnya bukan hanya soal pergantian posisi, tetapi bagian dari upaya memastikan kinerja pemerintahan tetap terjaga dan dapat dirasakan masyarakat.
“Tujuan akhirnya tetap sama, bagaimana pemerintah bisa bekerja lebih efektif dan masyarakat merasakan dampaknya. Di situ kepuasan publik menjadi ukuran,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam konteks tersebut, reshuffle menjadi instrumen strategis yang harus dihitung secara matang agar tidak hanya menjawab kebutuhan internal saja, tetapi juga ekspektasi publik.
“Kalau momentum ini dikelola dengan tepat, reshuffle bisa menjadi penguatan. Tapi kalau tidak, justru bisa membuka ruang tafsir yang lebih luas dan tidak memberikan efek positif ke pemerintah,” pungkasnya.