TODAYNEWS.ID — Perbedaan pandangan antara Amerika Serikat dan Israel mencuat dalam upaya mengakhiri perang dengan Iran, dengan sejumlah isu strategis menjadi sumber utama ketegangan.
Perbedaan ini membuka kemungkinan perubahan skema perdamaian sekaligus memperpanjang proses negosiasi yang tengah berlangsung.
Laporan dari lembaga penyiaran publik Israel, KAN, menyebutkan bahwa perselisihan tersebut berpusat pada tiga isu utama. Isu itu meliputi masa depan program rudal balistik Iran, pengelolaan uranium yang telah diperkaya, serta potensi pelonggaran sanksi ekonomi.
Ketiga poin tersebut menjadi krusial karena menyangkut aspek keamanan dan ekonomi dalam jangka panjang. Perbedaan kepentingan antara kedua negara membuat proses penyusunan kesepakatan menjadi lebih kompleks.
Sebelumnya, muncul laporan bahwa AS telah mengajukan proposal 15 poin untuk menghentikan perang. Usulan itu disebut telah disampaikan kepada Iran melalui jalur mediasi Pakistan.
Selain itu, AS juga mempertimbangkan opsi gencatan senjata sementara selama satu bulan. Langkah tersebut ditujukan untuk membuka ruang negosiasi lanjutan dengan Iran.
Dari pihak Iran, tanggapan atas proposal tersebut telah disampaikan melalui mediator. Informasi ini diungkap oleh kantor berita semi-resmi Tasnim News Agency yang mengutip pejabat setempat.
Dalam tanggapannya, Iran mengajukan sejumlah tuntutan penting. Tuntutan itu mencakup penghentian serangan di semua front serta jaminan tidak akan terjadi perang kembali.
Selain itu, Iran juga meminta kompensasi atas dampak konflik yang terjadi. Mereka juga menuntut pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan.
Sementara itu, sumber politik di Israel menyebut pembicaraan antara AS dan Israel masih berlangsung. Ada kemungkinan proposal yang diajukan AS akan mengalami perubahan.
Seorang sumber Israel menyebut Iran kini menggunakan “bahasa perang tahap akhir” dalam komunikasi yang berlangsung. Hal ini menunjukkan posisi tawar yang kuat dari pihak Iran dalam negosiasi.
Sumber tersebut juga mengungkap kekhawatiran bahwa Donald Trump akan mendorong gencatan senjata sementara. Langkah itu dinilai berpotensi memberi ruang negosiasi lebih luas bagi Iran.
Meski demikian, hingga kini belum ada kepastian terkait jadwal pertemuan langsung antara pejabat AS dan Iran. Upaya mediasi melalui Pakistan masih terus berjalan.
Konflik ini sendiri telah berlangsung sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran yang menewaskan lebih dari 1.340 orang. Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel serta wilayah yang menampung aset militer AS di kawasan Timur Tengah.